Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Namun, Lilia belum juga menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan dalam waktu dekat. Karena tidak tega melihat sang ibu dan anak-anak kelelahan menunggu di koridor rumah sakit, Kaivan akhirnya meminta Maria, Kael, Akira, dan Ivy untuk pulang lebih dulu ke rumah.Di dalam ruang bersalin yang sunyi, Kaivan menatap Lilia dengan gumpalan rasa cemas yang tak bisa lagi disembunyikan."Sesar saja ya, Sayang? Aku benar-benar tidak tega melihatmu seperti ini. Ini sudah jam enam sore, dan Adek belum juga lahir," bujuk Kaivan lembut, mengusap pelipis Lilia yang basah oleh keringat selagi istrinya itu mencoba memejamkan mata untuk menghemat tenaga."Nggak mau, Mas. Aku mau mencoba melahirkan secara normal dulu," balas Lilia dengan nada sedikit kesal karena terus-menerus dibujuk untuk operasi."Sudahlah, lebih baik Mas diam saja. Kalau Mas bicara terus, perutku rasanya tambah sakit," lanjut Lilia ketus.Jauh di dalam lubuk hatinya, jiwa Arunika benar-benar in
Read more