تسجيل الدخولSatria memicingkan matanya. Dia menerima tablet tersebut dari tangan Liana, mengusap layarnya dengan ibu jari yang kokoh. "Dua belas persen... Itu persis jumlah saham minoritas yang sebelumnya dipegang oleh gabungan konsorsium tiga taipan Jakarta—Tirta, Hasyim, dan Sofyan.""Tapi bukannya mereka bertiga sudah tunduk penuh sama kamu setelah peristiwa di Kempinski dan kekalahan Mbah Kromo?" tanya Liana bingung. matanya membelalak menatap suaminya. "Kenapa tiba-tiba mereka berani melakukan aksi bunuh diri finansial kayak begini? Ini sama saja mereka memotong leher mereka sendiri!"Satria tidak langsung menjawab. Dia memejamkan matanya rapat-rapat. Dia tidak mengarahkan pikirannya pada analisis pasar saham, melainkan mengalirkan kesadarannya ke bawah lantai kayu tempat mereka berpijak.Tato naga emas di dada Satria berdenyut hangat. Pendar cahaya keemasan yang sangat tipis berkilat di balik kemeja putihnya.Huummm...Getaran batin Satria merambah jauh meninggalkan perbukitan Solo, melinta
Di dalam ruang rapat utama yang megah, Baskoro Himawan berdiri di ujung meja panjang, menatap kedatangan menantu dan putri tunggalnya dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bangga yang luar biasa. Seluruh jajaran direksi dan investor papan atas berdiri memberikan tepuk tangan riuh saat Satria melangkah masuk.Pemuda yang dulunya dipandang sebelah mata itu kini telah menjelma menjadi sosok pemimpin agung—seorang pelindung murni yang tidak hanya menguasai strategi bisnis tingkat tinggi, tetapi juga memegang kendali atas kestabilan energi tanah di mana kekayaan mereka berdiri."Hari ini," Baskoro membuka suara dengan tegas setelah seluruh hadirin kembali duduk, "Himawan Group tidak hanya mencatatkan rekor pertumbuhan aset tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, melainkan resmi memulai era baru di bawah kepemimpinan Satria dan Liana."Baskoro menatap Satria dengan binar mata penuh kepercayaan mutlak. "Satria telah membuktikan bahwa kekuatan sejati bukan diukur dari seberapa banyak kita meng
Sebelum Mbah Kromo sempat melepaskan mantranya, Satria sudah melesat maju bagai kilat keemasan—siap meruntuhkan pertahanan musuh besarnya demi melindungi wanita yang dicintainya dan tanah kelahirannya dari kegelapan.Gerakan Satria melipat jarak dalam sekejap mata. Pendar cahaya keemasan yang membungkus tubuhnya membelah kabut hijau milik Mbah Kromo Singo.Mbah Kromo yang panik menghentakkan tongkat Ular Kepala Tiga ke depan, menyemburkan gumpalan racun hitam pekat berbentuk rahang naga laut yang menganga lebar. Namun, Satria bahkan tidak mengedipkan mata. Tangan kanannya yang mengepal erat dipenuhi energi murni yang begitu padat hingga udara di sekitarnya bergetar hebat.BUMMM!Pukulan Lengan Naga Satria menghantam tepat di tengah gumpalan racun hitam tersebut. Ledakan energi murni seketika menyapu bersih seluruh hawa kotor Mbah Kromo. Pukulan itu melaju tanpa hambatan dan menghantam keras bagian tengah tongkat kayu berukir milik sang dukun tua.KREK... PRANG!Tongkat pusaka berusia
Gema gamelan dan gelak tawa tamu undangan di pendopo depan masih terdengar samar, namun di sudut taman belakang kediaman Himawan, keheningan mendadak terasa janggal.Angin sore yang semula berembus lembut tiba-tiba berembus kencang, membawa hawa dingin yang tak lazim. Wangi melati yang memenuhi area taman perlahan terkikis oleh aroma amis air laut dan bau kemenyan terbakar yang pekat.Liana yang sedang menyandarkan kepala di dada Satria refleks mendongak. Tubuhnya merinding hebat saat merasakan perubahan suhu yang drastis."Sat..." lirih Liana, cengkeraman tangannya di jas beskap Satria seketika mengencang. "Kenapa dadaku mendadak sesak banget? Angin ini... rasanya aneh."Satria tidak langsung menjawab. Sepasang mata hitam pekatnya memicing tajam menatap ke arah sudut dinding benteng tua di ujung taman. Tato naga emas di dada bidangnya yang semula berdenyut tenang kini membara panas, memancarkan pendar keemasan tipis yang menembus kain beskap hitamnya.Batin naga murni di dalam tubuh
Tepuk tangan membahana memecah keheningan. Di barisan depan tamu VIP, tampak tiga taipan Jakarta—Tirta Wijaya, Hasyim, dan Sofyan—ikut bertepuk tangan dengan raut wajah penuh kepatuhan. Kematian Ki Brojo dan ketegasan Satria di Hotel Kempinski telah memutus habis niat kotor mereka, menggantikannya dengan rasa hormat dan ketakutan mutlak pada sang naga pelindung.Setelah prosesi sambutan resmi selesai, Satria dan Liana melangkah turun dari panggung utama untuk menyapa para tamu undangan di pelataran pendopo. Hendra berjalan beberapa tindak di belakang mereka dengan keperkasaan dan kewaspadaan penuh, menjaga ruang gerak sang calon majikan utama.Ki Samudro bersama belasan sesepuh adat Keraton Solo mendekati Satria. Pria paruh baya berbatik lurik itu membungkuk dalam-dalam dengan kedua telapak tangan terkatup di dada."Selamat, Den Satria, Mbak Liana," ucap Ki Samudro dengan suara bergetar haru. "Tanah Mataram tersenyum malam ini. Penyatuan Anda berdua bukan hanya menyatukan dua insan, m
Mobil mewah yang membawa Satria dan Liana bergerak membelah jalanan Kota Solo yang mulai dibasahi rintik hujan sore. Di jok belakang, keheningan melingkupi mereka berdua. Bukan keheningan yang canggung, melainkan ketenangan mendalam dari dua insan yang baru saja melintasi berbagai badai besar bersama.Satria menatap ke luar jendela, memperhatikan deretan pohon asam tua dan bangunan bergaya arsitektur Jawa klasik yang melintas lambat. Di tanah inilah, petualangan mereka dimulai dari kesederhanaan. Kini, setelah melumpuhkan ancaman Ki Brojo, menundukkan pilar tiga taipan Jakarta, hingga menyelaraskan kembali nadi bumi Mataram, Satria merasakan gejolak energi di dalam dadanya tidak lagi membara liar. Energi naga itu telah berada pada titik keseimbangan mutlak—tenang, kokoh, dan berwibawa.Satria berpaling, mengamati wajah Liana dari samping. Putri tunggal konglomerat Baskoro Himawan itu tampak begitu anggun dengan sapuan rias tipis dan senyuman lembut yang menempel di bibirnya. Liana tid







