Olivia terkesiap pelan, matanya membulat panik walau rona di pipinya semakin jelas."Sst! Pelankan suaramu!" tegurnya sambil menatap ke sekeliling. "Tuan Spencer hanya bersikap sebagai atasan, tidak lebih dari itu. Jangan membuat gosip yang tidak-tidak.""Oh, ayolah. Jangan merendah begitu," goda Jane lagi, menyenggol lengan Olivia dengan jahil untuk menimpali ucapan Maya. "Coba pikirkan baik-baik. Kau itu karyawan yang masih baru, tapi tiba-tiba saja ditarik dan ditunjuk secara eksklusif menjadi asisten pribadinya, menggeser staf senior lain. Itu saja sudah sangat aneh kalau bukan karena dia punya ketertarikan khusus padamu sejak awal!""Benar sekali," timpal Maya dengan nada meyakinkan. "Dan sekarang, dia memujimu di depan klien penting. Kalau bukan karena dia ingin orang-orang tahu betapa berharganya dirimu di matanya, lalu apa lagi coba maksudnya?"Olivia menggigit bibir bawahnya, menahan degup jantungnya yang berpacu kian kencang. Berada di sisi Nicholas, melihat sisi lembut pri
続きを読む