Suasana ruang makan utama dipenuhi tawa hangat dan alunan musik klasik. Di sudut ruangan, Emily berdiri anggun dengan segelas sampanye. Dari ekor matanya, ia merasakan tatapan Olivia yang berdiri canggung di dekat pilar.Nicholas melangkah menghampiri Emily. Pria itu sempat menoleh ke arah pilar, dan dahinya langsung berkerut dalam saat matanya menangkap sosok asistennya. Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa, suara ketukan gelas terdengar nyaring."Perhatian semuanya, saatnya pemotongan kue!" seru salah satu paman Nicholas dengan antusias. "Ayo, Richard, berikan sedikit pidato untuk istrimu!"Tepuk tangan meriah menggema. Di depan ruangan, Tuan Richard Spencer berdiri berdampingan dengan istrinya. Wajah pria paruh baya itu sangat tegas dan mengintimidasi, persis seperti Nicholas."Aku bukanlah pria yang pandai merangkai kata," ucap Tuan Richard, suara baritonnya mengalun datar dan tajam. Namun, saat ia memutar tubuh menghadap istrinya, pandangannya melembut. "Tapi aku bersyukur,
Mehr lesen