"Ternyata cuma ada telur dan sosis. Bagaimana kalau kita cari sarapan di luar saja?" ajak Ravyan setelah menutup kembali pintu kulkas dan kembali mendekatiku di meja makan. "Aku juga lupa belanja lagi. Jangankan belanja, mikirin kamu gak ada di rumah aja aku udah capek," jawabku apa adanya. Ravyan terkekeh pelan. "Setelah sarapan, kita pergi belanja. Bagaimana?" "Ide bagus di hari weekend. Aku ambil cardigan dulu," jawabku cepat. Tak berapa lama, aku pun menyusul keluar dari rumah. Ravyan sudah standby di atas motornya. Ia bahkan memakaikan helm di kepalaku. "Emang kita mau sarapan di mana?" tanyaku. "Saya ada rekomendasi nasi soto ayam, tempatnya gak jauh dari perumahan ini." "Kalau gak jauh, kenapa harus pake helm?" "Loh, pake helm bukan karena jaraknya jauh atau dekat. Tapi pake helm itu salah satu kesadaran untuk keselamatan berkendara." Aku mendecak pelan dari balik helm. "Iya deh, Pak Mayor." "Bagus. Gak boleh banyak protes!" "Rasanya kayak lagi di-briefing komandan."
Mehr lesen