LOGINAku menggelar sajadah itu.Debunya masih menempel di lantai beton, tapi wangi sajadah itu mengingatkanku pada wangi lemari kayu di rumah orang tuaku dulu. Wangi yang selalu ada setiap subuh Ayah membangunkanku.Takbirku pecah di tengah.Baru satu ayat Al-Fatihah kubaca, air mata itu sudah tidak bisa kutahan lagi. Bahuku bergetar hebat. Suara isakku memenuhi sel ini, memantul, tidak ada yang bisa mendengar kecuali tembok.Aku bukan menangis karena pangkatku terancam. Bukan karena namaku yang besok mungkin ada di berita dengan judul "Oknum".Aku menangis karena aku rindu pada Lyra.Selesai sholat, aku tidak langsung beranjak. Aku duduk lama dengan tasbih kayu di tangan terus kuputar.Jam dinding di luar koridor berdentang. Jam 1 siang.Waktu terasa sangat panjang.Sampai hari berganti malam dan hatiku masih berharap-harap cemas.Tiba-tiba langkah sepatu PDL terdengar lagi. Bukan satu, tapi d
Waktu tidak berjalan. Ia merangkak.Setiap menit di ruangan ini terasa seperti seribu jam yang dipaksa kulalui sendirian.Arloji yang masih melingkar di pergelangan menunjukkan pukul 11.30. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku berhenti mondar-mandir. Dari pintu besi ke dinding beton, dari dinding kembali ke pintu. Empat langkah. Balik lagi. Empat langkah lagi.Pengap.Yang ada di kepalaku cuma Lyra. Aku khawatir setengah mati, tapi di sisi lain aku terus memaksa diriku percaya bahwa Mami pasti menjaganya. Mami memang keras, tapi kalau soal Lyra, dia tidak akan tinggal diam.Dan Kak Elina ....Aku berharap dia sudah bergerak. Semoga warung itu, atau rumah tetangga mana pun itu, masih menyimpan rekaman hari itu. Waktuku tinggal 38 jam lagi. Kalau tidak ada bukti itu, pangkatku, namaku, semuanya selesai.Hembusan napasku sendiri terdengar terlalu keras di ruangan 2x3 meter ini. Memantul di dinding beton yang dingi
Pukul 07.40. Aku belum dibawa ke Staltah.Aku masih ditahan di sel sementara Provost Makorem, di belakang gedung. Ruangan 2x3 meter, cat hijau pudar. Di sinilah perwira yang bermasalah biasanya menunggu mobil tahanan Pomdam datang.Sebelum ponselku disita, Danpom memberiku satu kesempatan terakhir."Satu panggilan, Ravyan. 3 menit. Gunakan baik-baik. Jangan drama."Tanganku gemetar membuka kontak. Nama Mami masih ada 17 panggilan tak terjawab. Kak Elina 8.Tapi bingung siapa yang harus aku hubungi sekarang.Aku pun berpikir cepat dan akhirnya memutuskan menghubungi Kak Elina, satu-satunya orang yang bisa aku ajak bicara dan kerjasama .Baru dua dering, langsung diangkat. Suaranya panik."RAVVYAN! YA ALLAH KAMU DIMANA? MAMI HISTERIS LIHAT VIDEO KAMU! KENAPA KAMU SEMBUNYIKAN KONDISI LYRA DARI KAMI?""Kak, dengarkan saya. Waktu saya cuma 2 menit," potongku cepat. Suaraku kutahan agar tidak pecah.
Pukul 06.55 mobil makin mendekati komplek Makorem.Ponselku bergetar dalam saku celana, dan saat aku mengecek, nama Mami terpampang di layar sebagai pemanggil.Panggilan tak berhenti, Mami terus menelpon tanpa sekalipun kuangkat.Sampai kemudian nama Kak Elina yang kini memanggil. Namun, aku masih tidak menerimanya. Aku senyapkan ponsel dan memasukkan kembali ke dalam saku. Mengembus napas kasar seraya menatap kaca mobil di mana udara sekitar masih berkabut.Di depan gerbang, dua wartawan dengan kamera langsung mengangkat lensanya ke arah mobil dinasku. Randy yang menyetir langsung tancap gas masuk ke dalam."Jangan turun dulu, Komandan," bisiknya.Aku mengangguk. Kaca kubuka sedikit. Di parkiran dalam, sudah ada dua mobil Provost. Artinya ini bukan panggilan biasa.Gedung utama Makorem masih sepi, tapi di lantai dua, lampu ruang Danrem sudah menyala.Aku rapikan PDL, memastikan sangkur dan baret terpasang sempu
"Brengsek!" umpatku seraya menarik kerah lehernya kembali. Mengangkat tubuh Arland yang terasa ringan tanpa perlawanan. Lalu melayangkan lagi empat bogem mentah di wajahnya. Hingga jejak lebam tercetak jelas pada pipinya itu. Aku sadar aku sudah gegabah, tapi demi apapun kesabaranku sudah benar-benar habis. Aku tidak peduli apa yang terjadi setelah ini, setidaknya tanganku bisa memberinya pelajaran walau tak seberapa."Ayo, pukul lagi," ucapnya meledek tapi tatapan matanya masih saja menantang. "Pukul sampai kamu puas. Dan besok, kamu tahu apa yang akan terjadi."Aku mendecih. "Saya gak peduli. Pukulan saja gak cukup, orang seperti kamu pantasnya mati!"Setelah aku berkata demikian, barulah si brengsek itu bangkit. Wajahnya babak belur, tapi sorot matanya menunjukkan ia tidak pernah kalah.Ia menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan. "Kamu hanya seorang perwira. Bukan malaikat maut. Dan aku gak akan menyerahkan nyawaku sama kamu!"Aku menatapnya dengan kemarahan yang membakar se
Bau asap tembakau bercampur nikotin seketika menerpa indera penciuman saat aku menepikan motor di halaman rusun tiga lantai. Pohon mangga tumbuh besar tinggi menjulang di samping bangunannya membuat tempat itu dikenal dengan sebutan rusun Mangga.Aku masih di atas motor. Menyapu pandangan pada setiap teras pintu di lantai bawah.Sampai aku menemukan sosok yang kucari berada di teras bangunan paling ujung.Itu Arland, berkumpul dengan tiga orang lelaki yang sedang merokok dan bermain karambol.Mereka tertawa terbahak-bahak di sana. Tapi tawa itu seperti bensin yang membakar hebat hati ini.Aku segera turun dari motor lalu melangkah cepat menuju teras rusun."Arland!" Aku berteriak hingga semua lelaki yang berada di teras itu menoleh.Tanganku bergerak lebih cepat dibanding otak, hingga aku menarik kerah kemeja Arland membuat lelaki itu bangkit.Bugh!Bugh!Bugh!Aku menghantam wajahnya dengan bogem mentah di pipinya. Namun rasanya tidak cukup, aku menendang perutnya dengan lutut dan me
"Papa gak bisa lakukan itu!” Suara Mas Arland meninggi. “Aku anak Papa!”Om Mahesa berhenti melangkah.Pria paruh baya itu menoleh perlahan dengan tatapan yang terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.“Anak papa seharusnya tahu bagaimana cara menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya!”Mas Arl
Kekacauan itu belum selesai.“ARLAND!”Suara berat penuh tekanan mendadak menggema dari deretan kursi keluarga.Seorang pria paruh baya berjas hitam berdiri dengan wajah merah padam. Rahangnya mengeras menahan malu.Mahesa Maheswara, Papa Mas Arland.Tatapannya langsung menusuk pada putranya sendir
Ballroom megah itu berubah kacau hanya dalam hitungan detik.Suara bisik-bisik tamu mulai bercampur dengan seruan kaget dan tatapan jijik yang mengarah pada Mas Arland.Beberapa orang tua bahkan buru-buru menutupi mata anak mereka. Namun video itu terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikan.Wa
“Kita pikirkan hal lainnya nanti. Sekarang kita fokus saja pada hari H yang semakin dekat,” ucap Ravyan tenang. Aku hanya bisa menatapnya dengan jantung yang berdetak aneh. Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum kecil sebelum kembali menyeruput minumannya seolah pembicaraan tentang pernikahan da







