MasukPaper bag itu kutaruh di atas kasur sementara aku melesak masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan tubuhku di bawah guyuran air shower yang deras dan menyegarkan.
Setelah mandi, aku mengeringkan tubuh dan segera keluar dari kamar mandi. Ragu-ragu, aku mengeluarkan isi dari paper bag tadi.Ada tiga buah lingerie di dalamnya.Aku langsung memejamkan mata sesaat."Kak Elina benar-benar keterlaluan," gumamku pelan.Yang pertama berwarna ivory lembut deDi hari ketiga.Kondisi Lyra sudah jauh lebih baik.Wajahnya memang masih terlihat pucat, tetapi tidak sepucat dua hari sebelumnya.Perdarahan juga sudah kian berkurang.Ia sudah bisa duduk lebih lama tanpa terlihat terlalu lemas. Bahkan pagi tadi, ia sudah mampu berjalan sendiri ke kamar mandi tanpa harus berpegangan pada sisi ranjang. Tanpa harus aku bantu.Dokter yang melakukan pemeriksaan pun mengatakan bahwa kondisinya cukup stabil.Jika tidak ada keluhan lain, kemungkinan besar besok ia sudah diperbolehkan pulang.Seharusnya kabar itu membuatku lega.Dan memang, aku merasa lega. Karena setidaknya aku tidak lagi harus melihatnya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Namun entah kenapa, sejak pagi tadi ada perasaan aneh yang memenuhi dada.Aku masih duduk di sofa ketika seorang perawat masuk membawa obat.Setelah memeriksa kondisi Lyra, perawat itu tersenyum. "Ibu sudah jauh lebih baik."Lyra mengangguk pelan. "Iya, Sus.""Sudah bisa jalan?""Sudah. Pelan-pelan.""Kemajuan
Belum mampu memanggilnya dengan panggilan kesayangan.Belum mampu mengusap rambutnya sambil mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.Karena kenyataannya ....Tidak ada yang baik-baik saja.Anak kami sudah pergi dan luka ini masih terlalu baru.Aku mengembuskan napas pelan. "Jangan bicarakan tentang pekerjaan lagi.""Tapi—""Saya bilang jangan." Suaraku memang terdengar tegas. Namun tidak sekeras sebelumnya.Lyra kembali terdiam.Aku menatapnya yang masih membelakangiku. "Jangan membuat keputusan besar saat kamu sedang berada dalam kondisi seperti ini.""Karena saya gak tahu apakah keputusan itu benar-benar berasal dari keinginan kamu atau hanya karena kamu sedang merasa bersalah."Lyra perlahan membalikkan tubuh. Matanya yang sembab menatapku.Aku melanjutkan. "Kalau setelah kamu benar-benar pulih kamu masih ingin resign, kita bicarakan.""Kalau setelah beberapa
Hembusan napasku terdengar berat setelah duduk di kursi tepat di samping ranjangnya. Aku menatap wajah Lyra yang terlihat masih pucat. Pun dengan sorot mata yang berbalut luka."Saya di sini," ucapku terdengar dingin dan datar.Kedua tangan k bersilang di dada sambil menatap u memang menemaninya. Aku pula yang merawatnya. Tapi aku tidak bisa bersikap seperti biasa, seolah semua baik-baik saja di antara kami.Jika Lyra terluka dengan sikapku, maka dia berhak mengusirku dari ruangannya ini.Beberapa saat hening. Lyra yang seharusnya mulai tidur belum juga memejamkan matanya. Entah dia memang belum mengantuk atau ada yang mengganjal dalam hatinya. Aku tidak ingin begitu peduli.Aku membawa punggung bersandar pada badan kursi. Mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi lalu menggeliat pelan. Merenggangkan otot yang terasa kaku dan pegal. "Pak Mayor ...?" Suara Lyra pelan memanggilku."Hmm?" Aku menjawab sekenanya. Bahk
Hari pertama rawat inap terasa sangat panjang dan sunyi. Bukan karena ruangan itu sepi. Melainkan karena aku dan Lyra sama-sama kehilangan banyak kata untuk berbicara lebih banyak seperti biasa.Aku tetap berada di rumah sakit.Tidak pergi ke mana-mana.Tidak kembali ke Bandung atau markas.Aku duduk di sofa kecil yang berada di dekat jendela ruang rawat. Sesekali membuka ponsel untuk membalas pesan pekerjaan yang benar-benar penting.Namun lebih sering, aku hanya diam dan memperhatikan Lyra dari kejauhan.Perempuan itu lebih banyak memejamkan mata.Entah karena tubuhnya masih sangat lemah atau karena ia tidak tahu harus bicara apa padaku.Beberapa kali perawat masuk memeriksa tekanan darahnya.Mengganti cairan infus.Memberikan obat dan setiap kali perawat bertanya, akulah yang menjawab."Pasien masih pusing?""Masih sedikit.""Perdarahannya bagaimana?""Sud
Perjalanan kembali menuju Bogor terasa jauh lebih panjang daripada sebelumnya.Aku sudah berganti pakaian di rumah Ibu. Kemeja hitam polos dan celana bahan gelap menggantikan pakaian yang sejak semalam menempel di tubuh. Ibu bahkan memaksaku memakan beberapa suap nasi sebelum berangkat.Meski nyaris tidak terasa apa pun di lidahku.Sebelum keluar rumah, Ibu menggenggam tanganku erat."Jangan pulang membawa amarah, Yan."Aku hanya mengangguk pelan."Kalau memang belum bisa memaafkan, tidak apa-apa. Tapi jangan tinggalkan istrimu sendirian menghadapi semua ini."Kalimat itu terus terngiang sepanjang perjalanan.Mobil melaju, makin jauh meninggalkan Bandung.Kabut pagi perlahan menghilang, berganti langit yang mulai cerah.Namun pikiranku rasanya tetap gelap.Setiap beberapa kilometer, bayangan semalam kembali muncul.Gundukan tanah kecil.Kotak putih di tanganku.
Ibu mengusap pelan kepalaku, membiarkan aku terdiam cukup lama.Beliau tidak memaksaku menjawab.Tidak memaksaku menerima semua nasihatnya saat itu juga.Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Hanya terdengar isak napasku yang mulai berangsur pelan. Dan perasaanku yang jauh lebih baik dibanding beberapa saat sebelumnya."Ayahmu dulu pernah bilang sama Ibu," ucap beliau lirih. "Kalau seorang laki-laki boleh saja menangis. Tapi setelah itu, dia harus kembali berdiri."Aku menatap lantai. "Aku capek, Bu.""Ibu tahu.""Rasanya aku benar-benar lelah.""Karena yang kamu bawa bukan cuma rasa kehilangan. Tapi juga rasa bersalah."Aku memejamkan mata.Benar.Aku merasa bersalah.Gagal, terlambat dan merasa menjadi suami yang tidak cukup peka.Ibu menggenggam tanganku erat. "Nak ...."Aku mendongak perlahan."Sekarang coba Ibu tanya. Apa yang paling kamu pik
Aku langsung berjalan menuju ruangan tempat Alana dirawat.Semakin dekat dengan ruangannya, langkahku justru semakin berat.Entah kenapa ada perasaan tidak nyaman yang menggelayuti dada sejak tadi.Mungkin karena video semalam. Mungkin juga karena aku takut melihat send
Perjalanan yang awalnya kupikir hanya sebentar ternyata memakan waktu hampir tiga jam.Kami sempat berhenti dua kali.Sekali untuk mengisi bensin. Dan sekali lagi membeli minuman dingin di minimarket pinggir jalan.Namun sebagian besar waktu dihabiskan di atas motor.Melewati hamparan sawah.Perbuk
"Kalian sudah tahu akan tinggal di mana setelah menikah?" tanya Mami. Pembicaraan di meja makan ini rupanya terus berlanjut."Kebetulan saya sudah ada rumah, Mi. Tidak terlalu besar seperti rumah ini. Tapi, cukup untuk kami berdua memulai hidup baru," jawab Ravyan dengan cepat.
Aku refleks berhenti.Jantungku yang masih tak karuan, kini makin berulah.Pelan aku menoleh.Ravyan berdiri sangat dekat di belakangku sekarang. Jemarinya masih menggenggam pergelangan tanganku hangat.“Kenapa buru-buru kabur?” tanyanya santai.“Aku g







