Aruna membenamkan wajahnya ke bantal, menarik napas panjang dengan bahu yang naik turun. Ia membiarkan tubuhnya lemas sepenuhnya di atas sprei. Zen berbaring telentang di sampingnya, satu tangan menopang kepala sementara tangan lainnya memainkan ujung rambut Aruna."Gila," gumam Zen sambil menatap langit-langit kamar dengan sudut bibir terangkat.Aruna menoleh, menatap Zen dengan mata yang masih setengah mengantuk karena lelah. "Gila apanya?""Semuanya. Cara kamu natap aku tadi, caranya kamu... ah, sudahlah." Zen tertawa pelan, lalu membalikkan badan hingga posisi mereka berhadapan. Aruna mendengus, meski ada sisa senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan."Sok tahu. Kamu yang mulai duluan," sahut Aruna berusaha mengatur detak jantungnya yang masih kencang."Iya, iya. Memangnya aku bisa nolak kalau kamu sudah menatapku kayak gitu?" Zen menyentil pelan hidung Aruna.Aruna memutar bola mata, tangannya
Mehr lesen