"Waduh, waduh! Ini sambutan macam apa?" Baskara terkekeh, suaranya cempreng namun berwibawa. Dia menatap belati di tangan Aruna dengan mata berbinar-binar. "Itu belati warisan leluhur, ya? Bagus sekali! Tapi saranku, jangan main tusuk-tusuk. Nanti lantai marmer saya yang mahal ini kena noda darah. Susah hilang, lho!" Dante yang masih bersandar di bahu Aruna perlahan mendongak. "Kakek?" suara Dante serak, nyaris seperti geraman. Baskara bertepuk tangan sekali. "Nah, cucu kesayanganku sadar juga! Dante, kamu makin kurus. Pasti gara-gara sering telat makan karena sibuk main perang-perangan, ya?" Valeska, yang berdiri di samping Baskara, memutar bola matanya malas. "Tuan, bisa tidak berhenti bicara omong kosong sebentar saja? Mereka baru saja hampir mati." "Ya justru itu! Karena hampir mati, mereka harusnya dirayakan dengan teh hangat dan biskuit cokelat, bukan
Baca selengkapnya