"Kok bisa!" Dante menyambar kerah kemeja Arthur, lalu melepaskannya dengan kasar. "Gimana sistem kepemimpinan di divisi itu? Masak divisi sepenting itu bisa memasuki ranah Dewan Pusat sesuka hati! Itu penghinaan." Arthur tetap berdiri tegak. Ia merapikan kerah jasnya yang sedikit miring, lalu melipat kedua tangan di depan dada. "Keputusan Dewan tidak pernah mutlak di mata militer. Kau tau itu." "Aku tidak peduli!" Dante menggeleng keras, seolah semua penjelasan ayahnya tidak lagi berarti. Ia mendekat, napasnya patah-patah menahan amarah. "Divisi Arsip adalah anjing pelacak militer. Kalau mereka sudah mencium identitas Aruna, mereka tidak lagi mencari data. Mereka sedang mencari cara untuk menjatuhkanku lewat dia." Arthur menghela napas panjang. Dante menunduk; rahangnya mengeras, sementara dadanya naik-turun menahan emosi. "Jadi sekarang kau meragukanku?" Arthur memotong, suaranya tajam. Ia terdiam sejenak, mengamati
Read more