"Keluar," ucap Dante. Suaranya tidak keras, tapi getarannya membuat udara di dalam kamar terasa berat. Dante tidak bergerak dari ambang pintu, menghalangi satu-satunya jalan keluar dengan tubuh tegapnya. Zen tidak langsung bergerak dari kasur Aruna. Ia justru merapikan jubah sutra hitamnya yang sedikit kusut, lalu menatap Dante dengan ujung bibir yang tertarik ke atas. "Galak banget, Komandan," sahut Zen santai. "Baru juga mau reuni kecil-kecilan." Dante melangkah masuk ke dalam kamar. Sol sepatu boot militernya meninggalkan jejak debu kelabu di atas lantai kayu yang bersih. Aruna melangkah mundur hingga bagian belakang lututnya membentur tepian ranjang. Tangannya meraba sprei di belakang tubuhnya, mencari tumpuan untuk tangannya yang mulai basah oleh keringat dingin. "Saya tidak akan mengulang perintah, Zen," desis Dante. Jarak di antara kedua pria itu kini hanya tersisa dua langkah. Dante berdiri menjulang, membuat sosok Zen yang ramping tampak tenggelam di bawah bayang
Read more