"Argh!" Suara cambuk yang membelah udara terdengar, diikuti oleh suara gesekan kulit yang menghantam daging. Aruna tersentak. Kelopak matanya yang terasa berat perlahan terbuka, menangkap cahaya lampu ruangan yang menyilaukan. Di tengah ruang serba putih yang berantakan, Aruna melihat pemandangan yang mustahil dipercaya. Madam Valeska, sosok yang selama ini ditakuti, yang selalu berdiri dengan dagu terangkat, bersimpuh di lantai. Wajahnya yang dingin dan angkuh basah oleh air mata. Di depannya, berdiri seorang pria asing dengan seragam Dewan yang rapi dan kaku. Pria itu memegang sebuah pecut kulit hitam. "Saya nggak pernah berniat membunuhnya," suara Valeska bergetar. Tanpa basa-basi, pria itu mengayunkan pecutnya berkali-kali, menggores kulit keriput Valeska hingga meneteskan noda merah. Ujung pecut itu mendarat telak di punggung Valeska. "Argh!" V
Baca selengkapnya