Setelah ketegangan luar biasa di ruang rapat Paviliun Agung mereda, Pandya memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Sektor Utara padepokan guna menenangkan pikirannya yang penat. Angin siang bertiup cukup kencang, menggoyangkan dedaunan hijau di sepanjang jalur setapak batu.Di pinggangnya, Pedang Sakra sudah kembali tenang, meskipun ada rasa bersalah yang samar-samar mengalir melalui ikatan batin mereka.“Bocah... tanganmu benar-benar tidak apa-apa? Aku masih merasa tidak enak karena membuat kulitmu terbakar tadi pagi,” bisik Sakra dengan nada yang sangat pelan, jauh dari kesan ketus biasanya.Pandya melirik telapak tangan kanannya yang kini hanya menyisakan garis merah tipis. "Sudah kubilang, aku tidak apa-apa. Lagipula, amukanmu tadi setidaknya membuat Falan sadar posisi. Jadi, anggap saja kita impas."“Hmph, ksatria serakah seperti dia memang harus diberi pelajaran berkala,” gerutu Sakra, mencoba mengembalikan harga dirinya sebagai besi tua legendaris.Lang
Read more