Meskipun aura energi emas-perak yang dilepaskan oleh Pemimpin Pandya baru saja menghancurkan belasan monster bayangan di udara dengan sangat epik, kondisi batin pemuda itu ternyata belum sepenuhnya stabil. Benturan keras antara kesadaran spiritual leluhur Arkatama, racun kutukan Danu, dan ramuan obat dari faksi administrasi meninggalkan efek samping yang tidak terduga di dalam kepala sang Pemimpin Agung.Setelah gelombang cahaya mistis itu meredup, Pemimpin Pandya berdiri diam di ambang pintu paviliun yang hancur. Tangannya masih menggenggam Pedang Sakra, namun perlahan-lahan, tubuhnya tampak limbung. Sepasang matanya yang tadinya berkilat tajam mendadak meredup, digantikan oleh sorot mata yang kosong, kebingungan, dan dipenuhi distorsi memori."Pemimpin Pandya!" Attaya menjadi orang pertama yang melompat maju, mengabaikan protokol keamanan, dan langsung menangkap pundak pemuda itu sebelum tubuhnya sempat ambruk ke lantai batu.Falan dan Dipta segera menyusul, membuat barikade rapat d
Read more