LOGINSerena masuk kembali ke ruangannya. "Mbak—"Nada itu cukup untuk menghentikan langkah Serena."Ada apa?"Clara memutar layar laptopnya. "Lihat."Menitpost. Artikel baru — timestamp tiga puluh menit lalu.SIAPA DALANG KEBAKARAN GUDANG DI MAKASSAR?Serena membaca cepat. Nama Hendra belum disebut — tapi semua yang ada di sana cukup untuk siapa pun yang mengikuti kasus ini dari dekat untuk mengarah ke sana. Gudang. Aliran dana. Perusahaan cangkang. Dan satu paragraf yang menyebut "sumber internal yang enggan disebutkan namanya.""Tiga puluh menit lalu?""Iya. Tepat pas mbak keluar."Pintu ruangan terbuka keras.Bima masuk — dan untuk pertama kalinya sejak Serena mengenalnya, lelaki yang selalu tampak terkendali itu kelihatan berantakan dari dalam. Matanya merah di sudutnya. Rahangnya terlalu kaku. Tangannya menggenggam ponsel."Ada apa, Bim?""Sudah lihat artikel?""Sudah. ""Saya tahu!" Suaranya naik — lalu ia menahannya, mengembuskan napas, menurunkan volume tapi bukan ketegangannya. "
Mereka bergegas bersama ke kantor Lensa Nusantara — Arga mengikuti Serena dengan alasan resmi yang keduanya tahu hanya setengah benar: ia datang sebagai detektif yang membantu kasus yang Serena dalami.Setengahnya lagi tidak perlu diucapkan.Setiap orang yang mereka lewati di koridor melirik sebentar — dua orang masuk bersamaan di pagi hari, wajah Arga yang tidak dikenal, jarak di antara mereka yang terlalu dekat untuk sekadar kolega. Serena tidak mempedulikannya. Arga lebih tidak peduli lagi.Clara sudah ada di ruangannya — dan wajahnya langsung cerah begitu melihat Serena, meski di pipi kirinya masih ada lebam yang belum sepenuhnya pudar."Pagi, Mbak Serena..." Clara menyambut Serena dengan senyumnya."Kok udah masuk? Udah sembuh total?""Hehe, udah mbak. Nggak enak kelamaan di RS." Clara melirik Arga. "Tumben, ikut ke kantor?""Ada yang perlu dibahas." Jawab Arga datar."Bima udah dateng?""Belum mbak. Kemarin juga nggak kelihatan."Hening sejenak. Clara memindahkan pandangan antar
Pagi datang lebih cepat dari yang mereka kira.Serena membuka mata dengan kepala berdenyut—sisa wiski semalam belum sepenuhnya hilang. Tapi ada yang lebih hangat di sampingnya, sesuatu yang membuatnya enggan bergerak.Lalu ia ingat. Semuanya.Bayu. Darah di lantai. Tangis yang akhirnya pecah di balkonnya. Bibir Arga.Serena duduk tegak secepat kilat, selimut ditarik sampai dada. Arga ikut terbangun, rambutnya berantakan, menatap Serena sambil setengah tersenyum—padahal semalam ia menangis di pelukan wanita itu.“Jangan dibahas.”“Aku belum bilang apa-apa.”“Tapi mau dibahas kan?!”“Lumayan jeli buat orang yang baru bangun.” Arga menyandarkan kepala ke headboard, suaranya masih serak. “Tapi oke. Nggak dibahas.”Serena melempar bantal ke wajahnya sebelum buru-buru turun dari ranjang, masih sempat tersipu meski berusaha terlihat sibuk.Ding-dong.Keduanya membeku.Ding-dong, lebih panjang, lebih tidak sabar.“Siapa yang ke apartemen orang jam segini,” gerutu Serena, menyambar kemeja dari
Arga sangat mengetahui bagaimana mantan atasannya bergerak. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, ia benar-benar marah — marah yang membakar lebih panas dari yang pernah ia rasakan, tidak bisa lagi ia kunci dengan logika dingin yang biasa jadi perisainya.Hendra membawa seorang anak yang tidak tahu apa-apa ke dalam permainan kotor ini. Pikiran itu menggerogoti kepalanya, berulang, tidak mau melepaskan cengkeramannya.Sebelum boarding, Arga mengirim pesan ke Pak Rahmat, jarinya hampir merobek layar. "Anaknya Bayu dalam bahaya. Kalau ada info, tolong sampaikan. Sekarang."Sepanjang penerbangan ia menggali file-file lama seperti orang kehabisan udara, rahangnya mengeras, matanya membaca tanpa benar-benar menyerap."Arga—""Jangan sekarang." Suaranya lebih tajam dari yang ia maksudkan. "Saya tahu betul betapa bengisnya Hendra.""Saya sudah kirim info anonim ke rekan jurnalis saya," sahut Serena, tidak gentar. "Kalau nama Hendra ikut tersangkut, dia akan sibuk dengan pengalihan isu. Sebeng
Arga tertidur di kursi di samping ranjang Serena, kepalanya miring pada sandaran yang terlalu keras untuk disebut nyaman. Satu tangannya masih berada dekat tepi ranjang, seolah bahkan dalam tidur pun ia siap bergerak kapan saja jika Serena membutuhkannya.Serena bangun lebih dulu.Tangannya bergerak lebih dulu daripada pikirannya. Ujung jarinya menyentuh rambut Arga, mengusap pelan, hati-hati sekali, seolah takut membangunkannya."Apa yang membuatmu begitu ingin aku selamat?""Apakah hanya sekadar bentuk trauma kehilangan?"Serena menelan ludah. Ia menarik napas pelan, masih terus mengelus rambut Arga tanpa sadar. Ia tidak ingin terlalu percaya pada siapa pun lagi. Arga memberinya terlalu banyak alasan untuk percaya, dan itulah yang membuatnya takut.Ini cuma profesionalitas, pikirnya, mencoba menenangkan diri. Dia pasti akan melakukan hal yang sama untuk siapa pun yang dia lindungi. Bukan karena ini saya.Tapi bagian dirinya yang paling jujur tahu, cara Arga menjaganya semalam tidak
“Arga!”Randi berlari saat melihat Arga duduk di tanah, memangku Serena yang pingsan.“Gue udah bilang jangan ke gudang itu,” tegurnya, berjongkok di depan mereka.Arga tak menoleh. “Bantu gue selamatin dia dulu. Nanti lo bebas marah.”Randi terdiam, lalu memeriksa nadi Serena. Matanya menangkap bahu Arga yang basah darah.“Ambulans dua menit lagi. Bahu lo kena parah.”“Gue gak apa-apa.”“Ga, ini bukan lecet.”“Gue bilang gak apa-apa.”Randi memilih diam. Ia melepas jaketnya, menekan luka Arga, lalu kembali fokus ke Serena.Di belakang mereka, api melahap gudang. Orang-orang berkerumun, suara panik bersahut. Arga tak mendengar apa-apa selain napas Serena yang tipis.“Dia bakal selamat,” kata Randi pelan. “Dan ini bukan salah lo.”Arga tak menjawab. Hanya ada satu pikirannya: langkahnya seperti selalu dibaca Hendra. Belum sehari di Makassar, Serena nyaris mati dua kali.Sirene kian dekat. Arga baru melepaskan Serena ketika paramedis datang. Tangannya sempat tertahan sebelum mundur. Ia
Rabu. Pukul enam dua puluh pagi.Serena mematikan mesin mobilnya dua rumah dari alamat yang Harmoko berikan. Jalan di kawasan Menteng Dalam ini sempit dan sepi—deretan rumah tua dengan pagar rendah, pohon mangga yang akarnya sudah mengangkat trotoar, satu warung rokok yang belum buka. Cahaya masih
Serena tidak cerita soal pria di lorong itu kepada siapa pun.Bukan karena tidak relevan. Tapi karena ia belum tahu cara mendeskripsikannya tanpa terdengar seperti orang yang terlalu memperhatikan orang asing. Dua cangkir kopi. Kalimat yang lebih terasa seperti peringatan daripada percakapan. Pungg
Gedung tua Gatot Subroto terlihat lebih kusam di siang hari.Serena parkir dua blok dari gedung—kebiasaan lama, tidak pernah ia pikirkan secara sadar. Ia berjalan dengan langkah yang tidak terburu-buru tapi tidak pelan, blazer hitam tipis di atas kemeja putih yang tucked-in rapi, rambut dikuncir re
Nama itu muncul dua hari setelah telepon Wisnu.Revan Arkana. Direktur Operasional Minerva Advisory. Bima meletakkan fotonya di meja Serena pagi itu—pintu ditutup, tirai ditarik setengah, kebiasaan baru sejak kasus ini masuk ke meja mereka. Rahang tegas, senyum kamera, berdiri di depan gedung kaca







