Menjelang sore, Ane baru beranjak dari ranjang. Rein sudah bangun dari tadi, beberapa kali berpamit pada Ane untuk merokok di luar setelah mereka selesai bercinta. Semakin senja, semakin dekat ke waktu berpisah, Ane semakin merasa tak rela, tapi ia tetap harus melakukannya. "Aku beliin kamu makan barusan, makan dulu yok," ajak Rein kebetulan sekali muncul di pintu. "Kamu udah makan?" tanya Ane balik, ia mengekor langkah Rein menuju dapur. "Belom, nunggu bareng sama kamu," kata Rein, ia sajikan stamppot dengan toping daging cincang beraroma harum. "Kamu beli mateng?" "Iya, aku nggak bisa masak masakan Belanda, bahannya nggak kayak di Indonesia," keluh Rein."Makasih, Meneer," ucap Ane tulus. Ia mengambil duduk di sebelah Rein, menarik stamppotnya, lalu disendoknya sedikit. "Enak," pujinya dengan ekspresi takjub. "Makan yang banyak, kamu nggak banyak makan seharian ini," ujar Rein. "Kamu besok ambil penerbangan pagi?" "Sama kayak yang diatur Bu Ery buatmu," sahut Rein. "Wah," A
Read more