"Tunggu sini," kata Rein terburu meninggalkan Ane yang masih linglung dengan jawabannya. Meski Ane terlihat tak yakin, Rein sudah memperkirakan penolakan. Jadi, saat meluncur kata setuju itu dari mulut Ane, Rein bergegas menuju florist yang yang tadi sempat didatanginya, mengambil pesanan buket bunganya. Sepeninggal Rein, Ane mengitarkan pandangannya. Sungguh, keputusan yang sangat gegabah tapi tak bisa disesalinya. Betapa wajah Aldric terbayang nyata saat ia setuju dengan Rein, anehnya, hatinya merasa biasa saja, tidak merasa bersalah sedikitpun. "Peony-nya terbatas, tapi untung masih ada," Rein datang terengah membawa sebuket bunga berisi peony, davodil, baby breath dan beberapa kuntum tulip. Perpaduan warna di dalam buket itu indah sekali, dan sudah pasti nilainya cukup mahal karena peony yang dirangkai tidak hanya satu warna."Pesan di mana?" tanya Ane takjub, matanya berkaca. Aldric yang statusnya adalah pacar saja belum pernah memperlakukannya semanis ini. "Ada," Rein menged
Read more