Erangan panjang Ane menandai puncak malam panasnya bersama Rein baru saja tiba. Mereka bermandi peluh, terengah mengatur nafas, Rein berguling dan berbaring di sebelah Ane dengan jakun yang masih naik-turun tidak teratur. Di sebelahnya, Ane menaikkan selimut hingga sebatas dada, menutupi tubuh polosnya yang masih basah oleh keringat."Aku harap setelah ini, kita benar-benar nggak perlu ketemu lagi," ucap Ane memecah keheningan. "Mana bisa," sahut Rein. "Kita ada di bisnis yang sama, Ariane," tandasnya tak rela. "Lagipula, aku nggak berniat melepaskanmu," tambahnya. "Kita dua dewasa yang nggak perlu saling terlibat lagi meski udah tidur bersama, iya kan?" Ane menoleh Rein, sengaja memiringkan tubuhnya agar ucapannya bisa dimengerti. Namun, bukannya mendapat jawaban, Ane justru melihat pemandangan indah terpampang nyata di depannya. Rein bangkit dari ranjang, mengenakan trunk boxernya santai lalu berbalik pada Ane, memamerkan tubuh indah berhias ABS bertato yang sangat menggoda itu.
Read more