Rein kecupi pucuk kepala Ane, mengusapnya lembut, tak tahan juga dirinya untuk tidak memeluk Ane. Meski ia tahu bahwa perasaannya sedang dipermainkan, ia tetap rela berbuat apapun untuk Ane. "Ayo, ke kamar," ajak Rein lembut. Ane mengangguk ringan, ia biarkan Rein menggendongnya ala bridal style. Kedua lengan Ane melingkar ketat di leher Rein, kepalanya menyusup nyaman di antara ceruknya."Tidur dulu, kutemani," bujuk Rein sengaja berbaring di sebelah Ane, menjaga agar Ane tak merasa ditinggalkan. "Kerjaanmu udah selesai?" tanya Ane perhatian. "Udah, tidurlah," jawab Rein. Ane mengangguk, dengan manjanya, ia menyusup nyaman, menjadikan lengan Rein sebagai bantal. Matanya terpejam damai, wangi maskulin dari tubuh Rein menguar kuat, membuat Ane dibuai ke alam mimpi dengan begitu gampangnya. ***Saat membuka mata, Ane disuguhi pemandangan menakjubkan. Rein yang masih tertidur pulas di sampingnya, adam's apple-nya yang naik-turun begitu teratur. Matahari belum tinggi, masih pukul 5
Mehr lesen