Uap panas keemasan dari raga tegap Juna masih membumbung halus di udara kamar utama penthouse. Juna mengenakan celana kain hitamnya secara satset, melangkah tegap menghampiri Madam Elena dan Clarissa Wijaya yang berdiri tegang di ambang pintu. Ibu Arini Kusuma merapikan daster zamrudnya, duduk bersandar di bantal sutra dengan raut keibuan yang sarat kecemasan. "A-Aa... anu, Madam! S-Su-Sumpah, Pak Broto sama kakek dukun itu beneran mau main kurban darah di gunung?!" tanya Juna berpura-pura canggung diawal. "Benar, Arjuna! Tapi sebelum kamu terbang mengejar mereka ke pegunungan, kita harus memutus napas finansial Klan Sindhu!" pangkas Madam Elena tegas. "Iya, Arjuna! Tanpa pasokan uang dari bursa saham, aliansi Klan Sindhu bakal lumpuh total lusa!" tambah Clarissa Wijaya mengangguk. Madam Elena merangsek melangkah menuju meja kerja eksekutif, membuka laptop berenkripsi tinggi mili
Read More