Ibu Widya bergerak cepat setelah memastikan langkah kaki Pak Broto bener-bener menjauh dari lorong bawah tanah. Slot kunci besi kembali diputar hingga berbunyi klik nyaring, mengunci rapat kembali seisi ruangan arsip berdebu tersebut.Tanpa membuang tempo, wanita matang bertubuh bahenol itu langsung memeluk erat pinggang tegap Juna dari arah belakang dengan sangat manja."Ahhh, Juna... jantung saya masih berdebar gila-gilaan gara-gara si tua bangka tadi..." bisik Ibu Widya seksi, menekan sepasang "melon" jumbo miliknya tepat di punggung kokoh Juna."Aa... anu, Bu Widya, s-su-sumpah lepasin dulu pelukannya! Juna beneran gemetaran, ta-ta-tapi celana hamba belum rapi ini Bu!" seru Juna gagap setengah mati dengan wajah memerah pekat.Ibu Widya melepaskan pelukannya perlahan, lalu melangkah menuju meja kerja kayu untuk mengambil selembar berkas berstempel resmi rektorat. Dia menyodorkan selembar komitmen perlindungan akademik eksklusif di bawah kekuasaannya se
Read More