LOGINPria itu berdiri di sana dengan rambut yang sedikit berantakan, kemeja yang tak lagi rapi, dan raut wajah penuh frustrasi yang membakar.Begitu melihat pergerakan dari dalam mobil hitam itu, Axel langsung melangkah lebar menghampiri. Belum sempat kaki Hazel menapak sempurna di atas paving, Axel sudah melayangkan cecaran pertanyannya tanpa memedulikan presensi Arlo maupun Yaya yang baru keluar dari pintu belakang."Hazel! Jelaskan padaku sekarang!" tuntut Axel, suarasa meninggi dengan napas yang memburu. "Apa maksud dari perkataanmu di pelataran restoran tadi?! Siapa orang lain yang kamu maksud?! Kenapa kamu terus-terusan menyudutkanku seolah-olah aku ini penjahatnya?!"Hazel berdiri tegang di samping pintu mobil. Udara malam yang dingin menusuk kulitnya, namun panas di dadanya jauh lebih membakar. Hazel merasa sangat muak. Rasa lelah yang menumpuk dari urusan magang di kantor, pesanan ratusan gaun di butik, hingga drama picisan berdarah yang dibuat Axel dan Luna rasanya sudah mengura
"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan? Dari tadi aku lihat kamu seperti memikirkan sesuatu yang sangat berat." Hazel bisa merasakan ada beban pikiran yang mendadak menggelayuti pria di samping kemudinya itu.Arlo menoleh sekilas ke arah Hazel saat mobil mereka berhenti di bawah pendar merah lampu lalu lintas. Jemarinya mencengkeram lingkar kemudi sedikit lebih erat, sebelum akhirnya ia menyuarakan pertanyaan yang mengusik benaknya sejak di pelataran parkir tadi."Kenapa... kamu tadi berpihak padaku, Hazel?" tanya Arlo lirih, matanya menatap lurus menembus kaca depan yang dibasahi sisa embun malam. "Di depan Axel, di depan banyak orang... kamu lebih memilih membelaku dan menepis dia."Hazel mengembuskan napas panjang, melipat kedua tangannya di atas pangkuan. Sebuah senyuman tipis yang hambar terukir di bibirnya."Tentu saja karena aku sudah tahu sejak awal," jawab Hazel dengan tenang, suarasa terdengar begitu masuk akal. "Aku tahu betul kalau dalang di balik semua keributan membabi
Melihat perhatian seluruh pengunjung dan staf restoran kini tertuju penuh ke mejanya, wajah Hazel memerah padam, bukan karena malu, melainkan karena amarah yang ditahannya setengah mati. "Ikut aku!" perintah Hazel. Tanpa membuang waktu, Hazel langsung menyambar pergelangan tangan Arlo dan lengan jas Axel sekaligus, lalu menarik kedua pria bertubuh tegap itu keluar secara paksa dari area restoran. Yaya mengikuti dari belakang dengan langkah terburu-buru dan napas memburu, panik setengah mati melihat situasi yang makin lepas kendali.Setelah melangkah cukup jauh dari area pintu masuk restoran berhenti di sudut pelataran parkir yang agak remang dan sepi, Hazel melepaskan cengkeramannya dengan sentakan keras. Ia memutar tubuhnya, menatap Axel dengan sorot mata yang sarat akan kilatan amarah. "Apa-apaan kamu, Axel?!" bentak Hazel, suarasa bergetar menahan luapan emosi. "Kenapa kamu tiba-tiba membabi buta mengamuk seperti orang kesetanan di tempat umum?! Apa kamu tidak malu, ha?!"Axel,
Hazel menggelengkan kepalanya pelan, menepis lembut usikan tentang Arlo yang sempat mengacak-acak fokusnya. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu menatap layar monitor yang menampilkan spesifikasi proyek perhiasan dari Bound & SE. Bagi Hazel, tidak ada waktu untuk terjebak dalam teka-teki perasaan pria mana pun. Saat ini, pembuktian diri adalah satu-satunya prioritas utama."Miya, Nana, Layla... bisakah kalian mendekat sebentar?" panggil Hazel dengan nada tenang namun tegas.Seketika, ketiga rekan kerjanya menggeser kursi masing-masing dan berkumpul mengelilingi meja Hazel. Selama beberapa jam berikutnya, Hazel mengesampingkan seluruh pemikiran pribadi dan mulai membahas detail proyeknya bersama rekan tim kerjanya. Mereka berdiskusi secara intens, menukar ide mengenai pilihan material emas putih hingga teknik pemotongan berlian yang presisi. Ruangan Divisi Desain seketika dipenuhi aura profesionalisme yang hangat dan padu.Waktu berjalan cepat hingga jam kerja be
Seminggu telah berlalu sejak hari pertamanya menginjakkan kaki di Divisi Desain. Dalam kurun waktu yang terbilang singkat itu, Hazel membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar anak pemilik perusahaan yang menumpang nama. Berkat ketekunan, kejelian, dan bimbingan telaten dari Senja, Hazel dirasa sudah mampu menguasai beberapa hal penting mengenai seluk-beluk perancangan perhiasan eksklusif perusahaan.Melihat perkembangan pesat itu, Senja merasa Hazel sudah sangat siap untuk menerima sebuah proyek mandiri guna mengembangkan kemampuannya lebih jauh. Senja berani mengambil langkah ini tentu bukan tanpa dasar. Ia telah menyerahkan laporan evaluasi komprehensif mengenai hasil magang Hazel selama seminggu ini langsung kepada John. Membaca laporan yang memuaskan tersebut, John pun mengakui bahwa Hazel memang memiliki bakat alami yang luar biasa—sebuah keahlian yang diwariskan langsung dari mendiang ibunya.Pagi itu, di dalam ruangan Divisi Desain yang hangat oleh paparan sinar matahari, Senja
"Ada apa dengan butik, Ya? Hal urgent apa?!"Hazel mencecar pertanyaan itu dengan napas yang sedikit terengah.Tangan kirinya mencengkeram erat ponsel di telinga, sementara jemarinya yang lain merapikan tas tangan yang meluncur di bahunya. Angin malam yang berembus keras di tepi trotoar membuat suaranya terdengar makin panik.Telepon yang Hazel dapatkan rupanya dari Yaya. Suara sahabatnya di seberang sana terdengar begitu tegang, mendesak Hazel untuk segera datang ke butik malam ini juga karena ada hal yang sangat darurat. Hazel sudah berulang kali meminta Yaya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi lewat telepon, namun Yaya terkekeh cemas dan menolak. Ia mengotot meminta Hazel untuk datang dan melihatnya sendiri secara langsung.Untung saja, tak lama setelah panggilan ditutup, sebuah taksi berlampu hijau melintas di depan restoran. Tanpa membuang waktu, Hazel melambaikan tangan, masuk ke dalam kabin taksi, dan meminta pengemudi untuk bergegas melaju menuju butik milik mereka.
Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma
Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku
"Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,
Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,







