ANMELDEN"Damian?"Langkah kaki Hazel terhenti tepat beberapa meter di depan meja kayu berwarna cokelat gelap itu. Sepasang matanya membelalak pelan, hampir tak percaya dengan penglihatannya sendiri.Rupanya, sosok pria berpostur tegap dengan kemeja yang digulung rapi hingga siku itu adalah Damian. Pria yang sama yang beberapa waktu lalu sempat membuatnya menjadi pusat perhatian banyak pasang mata saat menghadiri sebuah pesta mewah bersama Arlo.Hazel tidak percaya ia bisa bertemu dengan idolanya lagi. Ada untungnya juga rupanya Hazel pergi dengan Axel tadi. Damian, yang saat itu tengah menyesap cangkir kopinya, mendongak. Saat manik matanya menangkap presensi Hazel yang berdiri canggung di tengah restoran, raut terkejut yang sama persis menghiasi wajah tampannya. Namun, keterkejutan itu dengan cepat berganti menjadi sebuah ulasan senyum ramah yang hangat. "Hazel? Wah, kebetulan sekali!" ujar Damian, suaranya yang berat membelah alunan musik instrumental restoran. Ia segera menegakkan dudu
Axel mengulurkan tangannya yang gemetar ke arah Hazel. Sorot matanya sayu, meredup pasrah, dipenuhi permohonan yang teramat sangat agar gadis di hadapannya itu bersedia menerima ulurannya dan melangkah ikut dengannya.Di balik wajahnya yang sedingin es, benak Hazel sebenarnya dirayapi rasa malas yang luar biasa. Harus berada di dekat Axel saat ini terasa seperti menyiksa diri sendiri. Namun, saat matanya melirik ke arah Luna, melihat wajah adik tirinya yang pias, memerah padam menahan amarah dan kehancuran ego, sebuah ide terbesit di kepalanya. "Kapan lagi ia bisa menyaksiikan Luna kesal setengah mati seperti ini?" Kepuasan singkat ini terlalu sayang untuk dilewatkan.Perlahan, Hazel mengangkat tangannya dan menyambut uluran jemari Axel. Betapa sumringahnya wajah Axel saat merasakan jemari Hazel menyentuh telapak tangannya. Binar kebahagiaan yang membuncah seketika memancar dari matanya. Bagi Axel, sentuhan kecil itu adalah sinyal hijau, sebuah tanda bahwa pintu maaf masih terbuka
Luna berdecak keras. Bunyi decakan yang sarat akan kekesalan itu lolos begitu saja dari celah bibirnya yang bergetar. Ia sungguh tidak percaya dengan adegan absurd yang baru saja tersaji tepat di depan matanya. Rasa tidak percaya itu menghantam jiwanya bagai pukulan telak yang menyakitkan. Padahal baru tadi siang, bahkan baru beberapa jam yang lalu di koridor divisi marketing, Axel masih sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Pria itu masih merupakan bidak penurut yang dengan mudah ia setir lewat untaian air mata dan manipulasi rasa iba.Namun, bagaimana mungkin dalam sekejap mata Axel bisa berubah seratus delapan puluh derajat seperti ini? Pria itu secara terang-terangan mengabaikannya, melepas cengkeramannya, dan merendahkan martabatnya demi kembali berlutut di bawah kaki Hazel. Bahkan yang paling menyakitkan, Axel tadi berucap dengan lantang bahwa ia tidak peduli lagi sekalipun Luna akan membencinya. Entah sihir apa yang telah dihembuskan Hazel, atau kecelakaan mental apa yang b
Melihat Hazel yang berbalik dan hendak benar-benar pergi meninggalkannya, gelombang kepanikan yang luar biasa hebat seketika menghantam dada Axel. Tanpa berpikir panjang, secara refleks pria itu mengabaikan keberadaan Luna yang masih bergelayut erat di lengan kanannya. "Kak Axel?! Tunggu! " Teriak Luna yang diabaikan oleh Axel. Dengan gerakan cepat dan putus asa, tangan kiri Axel terulur, menyambar dan mencengkeram pergelangan tangan kiri Hazel dengan teramat kuat. Cengkeraman itu begitu erat, seolah-olah Axel memiliki firasat gaib bahwa jika detik ini ia membiarkan Hazel melangkah pergi dan melepaskan genggamannya, ia tidak akan pernah bisa mendapatkan wanita itu kembali dalam hidupnya.Hazel menghentikan langkahnya. Punggungnya tegang sesaat, namun ia tidak meringis atau mengamuk. Di balik diamnya, Hazel sudah sangat yakin dengan apa yang ada di dalam kepala tunangannya itu. Ia tahu betul pola pikiran Axel. Axel menahannya kali ini pasti sama saja seperti biasa ujung-ujungnya h
"Akhirnya kamu pulang juga, Sayang! Aku sudah menunggumu dari tadi!"Suara berat yang terlampau familier itu membelah kebisingan pelataran parkir sore itu. Dalam hitungan detik, gurat sumringah di wajah cantiknya menguap tanpa bekas, berganti menjadi sebuah ekspresi datar, sedatar dinding beton di hadapannya.Ia mengembuskan napas pendek lewat hidung. Sosok yang kini berdiri beberapa meter di depannya, bersandar pada kap mobil dengan senyum yang dipaksakan tampak manis, adalah orang di muka bumi ini yang tak ingin ia lihat.Siapa lagi kalau bukan Axel.Pria itu rupanya sengaja tidak langsung pulang ke kantor pusat, melainkan memarkirkan mobilnya di depan perusahaan mendiang mama Hazel demi sebuah misi penembusan dosa menjemput sang tunangan di hari pertama magang. Pagi tadi, Axel memang datang dengan niat mulia untuk memberikan dukungan emosional. Namun, akibat panggung sandiwara yang digelar Luna di Divisi Desain, niat itu hancur berantakan menjadi badai makian yang justru menyudutk
Saat Luna perlahan mendongakkan kepalanya yang semula tertunduk, kekhawatiran di matanya seketika surut. Rupanya, dugaan buruknya keliru. Ia merasa sangat lega. Axel masih berdiri kokoh di sana, setia menemaninya di tengah keheningan koridor divisi marketing.Axel menatap Luna dengan sorot mata lembut, lalu mengulas seulas senyum menenangkan. Ia mengusap pundak Luna pelan. "Aku sangat ingin menemanimu di sini lebih lama, Luna. Tapi sayangnya... Papa baru saja mengirim pesan, beliau memintaku segera ke kantor pusat untuk menghandel urusan darurat perusahaan," ujar Axel dengan nada suara yang terdengar begitu meyakinkan.Awalnya, Luna sempat dirayapi rasa ragu. Instingnya berbisik bahwa itu mungkin hanyalah alasan klise yang dibuat Axel agar bisa lolos darinya. Ia curiga jika di balik kalimat itu, Axel sebenarnya berniat untuk menemui Hazel secara diam-diam di Divisi Desain."Jangan bilang kalau Kak Axel kepikiran sama wanita jalang itu!" gerutu Luna dalam hatinya. "Jangan harap! Kak
Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma
Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku
"Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,
Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,







