LOGINLuna berdecak keras. Bunyi decakan yang sarat akan kekesalan itu lolos begitu saja dari celah bibirnya yang bergetar. Ia sungguh tidak percaya dengan adegan absurd yang baru saja tersaji tepat di depan matanya. Rasa tidak percaya itu menghantam jiwanya bagai pukulan telak yang menyakitkan. Padahal baru tadi siang, bahkan baru beberapa jam yang lalu di koridor divisi marketing, Axel masih sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Pria itu masih merupakan bidak penurut yang dengan mudah ia setir lewat untaian air mata dan manipulasi rasa iba.Namun, bagaimana mungkin dalam sekejap mata Axel bisa berubah seratus delapan puluh derajat seperti ini? Pria itu secara terang-terangan mengabaikannya, melepas cengkeramannya, dan merendahkan martabatnya demi kembali berlutut di bawah kaki Hazel. Bahkan yang paling menyakitkan, Axel tadi berucap dengan lantang bahwa ia tidak peduli lagi sekalipun Luna akan membencinya. Entah sihir apa yang telah dihembuskan Hazel, atau kecelakaan mental apa yang b
Melihat Hazel yang berbalik dan hendak benar-benar pergi meninggalkannya, gelombang kepanikan yang luar biasa hebat seketika menghantam dada Axel. Tanpa berpikir panjang, secara refleks pria itu mengabaikan keberadaan Luna yang masih bergelayut erat di lengan kanannya. "Kak Axel?! Tunggu! " Teriak Luna yang diabaikan oleh Axel. Dengan gerakan cepat dan putus asa, tangan kiri Axel terulur, menyambar dan mencengkeram pergelangan tangan kiri Hazel dengan teramat kuat. Cengkeraman itu begitu erat, seolah-olah Axel memiliki firasat gaib bahwa jika detik ini ia membiarkan Hazel melangkah pergi dan melepaskan genggamannya, ia tidak akan pernah bisa mendapatkan wanita itu kembali dalam hidupnya.Hazel menghentikan langkahnya. Punggungnya tegang sesaat, namun ia tidak meringis atau mengamuk. Di balik diamnya, Hazel sudah sangat yakin dengan apa yang ada di dalam kepala tunangannya itu. Ia tahu betul pola pikiran Axel. Axel menahannya kali ini pasti sama saja seperti biasa ujung-ujungnya h
"Akhirnya kamu pulang juga, Sayang! Aku sudah menunggumu dari tadi!"Suara berat yang terlampau familier itu membelah kebisingan pelataran parkir sore itu. Dalam hitungan detik, gurat sumringah di wajah cantiknya menguap tanpa bekas, berganti menjadi sebuah ekspresi datar, sedatar dinding beton di hadapannya.Ia mengembuskan napas pendek lewat hidung. Sosok yang kini berdiri beberapa meter di depannya, bersandar pada kap mobil dengan senyum yang dipaksakan tampak manis, adalah orang di muka bumi ini yang tak ingin ia lihat.Siapa lagi kalau bukan Axel.Pria itu rupanya sengaja tidak langsung pulang ke kantor pusat, melainkan memarkirkan mobilnya di depan perusahaan mendiang mama Hazel demi sebuah misi penembusan dosa menjemput sang tunangan di hari pertama magang. Pagi tadi, Axel memang datang dengan niat mulia untuk memberikan dukungan emosional. Namun, akibat panggung sandiwara yang digelar Luna di Divisi Desain, niat itu hancur berantakan menjadi badai makian yang justru menyudutk
Saat Luna perlahan mendongakkan kepalanya yang semula tertunduk, kekhawatiran di matanya seketika surut. Rupanya, dugaan buruknya keliru. Ia merasa sangat lega. Axel masih berdiri kokoh di sana, setia menemaninya di tengah keheningan koridor divisi marketing.Axel menatap Luna dengan sorot mata lembut, lalu mengulas seulas senyum menenangkan. Ia mengusap pundak Luna pelan. "Aku sangat ingin menemanimu di sini lebih lama, Luna. Tapi sayangnya... Papa baru saja mengirim pesan, beliau memintaku segera ke kantor pusat untuk menghandel urusan darurat perusahaan," ujar Axel dengan nada suara yang terdengar begitu meyakinkan.Awalnya, Luna sempat dirayapi rasa ragu. Instingnya berbisik bahwa itu mungkin hanyalah alasan klise yang dibuat Axel agar bisa lolos darinya. Ia curiga jika di balik kalimat itu, Axel sebenarnya berniat untuk menemui Hazel secara diam-diam di Divisi Desain."Jangan bilang kalau Kak Axel kepikiran sama wanita jalang itu!" gerutu Luna dalam hatinya. "Jangan harap! Kak
Di ruangan Divisi Desain, suasana kembali produktif. Lembaran-lembaran kertas sketsa dan dokumen analisis material perhiasan tampak tersebar rapi di atas meja kerja Hazel. Gadis itu mencondongkan tubuhnya, mendengarkan dengan saksama setiap patah kata yang keluar dari bibir Senja. Fokusnya tak teralihkan sedikit pun; ia benar-benar tidak ingin melewatkan satu jengkal pun ilmu, trik, ataupun penjelasan teknis yang disampaikan oleh kepala divisinya itu.Melihat sepasang mata Hazel yang berbinar penuh determinasi, Senja perlahan menghentikan penjelasannya. Sebuah tawa kecil yang renyah lolos dari bibirnya, membuat atmosfer di antara mereka terasa semakin hangat."Kamu ini bersemangat sekali, ya," ujar Senja sembari merapikan beberapa draf proyek. Ia menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Hazel penuh rasa penasaran. "Tapi, Hazel... kalau boleh jujur, sebenarnya aku agak penasaran. Kenapa kamu justru memilih untuk bergabung di Divisi Desain sebagai karyawan magang? Padahal dengan st
Hazel menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan rekan-rekan barunya. "Aku benar-benar tidak apa-apa, Bu Senja. Tolong jangan khawatir."Begitu pintu kaca benar-benar tertutup rapat dan langkah kaki John serta rombongannya menghilang di ujung koridor, ketegangan di dalam ruangan Divisi Desain pecah seketika. Nana, Miya, dan Layla langsung menghampiri meja Hazel dengan wajah bersungut-sungut, tidak bisa lagi membendung uneg-uneg yang sejak tadi menyumbat dada mereka."Gila! Aku benar-benar tidak menyangka bakal melihat drama murahan seperti itu langsung di depan mataku!" Nana menghentakkan kakinya kesal. "Bagaimana bisa dia memutarbalikkan fakta dengan begitu mulus? Benar-benar bermuka dua!""Iya, konyol sekali! Dia yang memprovokasi, tapi begitu pria itu datang, dia langsung berakting seolah-olah dia korban yang teraniaya," sahut Miya sembari melipat tangan di dada, mendengus sinis. "Lalu dengan gampangnya dia memfitnah kita semua tidak mau menolong
Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma
Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku
"Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,
Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan







