"Dia anakku, Bu! Anak dari anakmu yang gagah ini!" sahut Bram. Wajah Renata yang tadinya penuh guratan murka seketika berubah cerah. Senyum bangga mengembang lebar di bibir keriputnya. Dia menepuk-nepuk bahu Bram. "Nah, begitu! Itu baru anak Ibu!" pangkas Renata hangat, lalu berbalik menatap Dania dengan raut wajah penuh perhatian. "Ingat ya, Bram, jaga baik-baik Dania. Jangan bikin dia stres lagi! Sekarang, makan pisang ini, Dania, bagus untuk calon cucu Ibu."Dania mengangguk. "Iya, Bu, terima kasih banyak."Setelah memastikan suasana kembali tenang dan mengusap pelan puncak kepala menantunya, Renata akhirnya berbalik melangkah keluar kamar. Pintul itu kembali tertutup rapat, menyisakan keheningan di antara sepasang suami istri tersebut.Begitu derap langkah tongkat Renata terdengar makin menjauh di lorong, raut wajah Bram yang penuh kepalsuan seketika runtuh total. Rasa malu, hina, dan kemurkaan yang tertahan di hadapan ibunya kini berbalik seratus persen menyasar pada wanita di
최신 업데이트 : 2026-09-11 더 보기