"Angger! Dania! Kembalilah kalian, bajingan!"Suara Bram memecah keheningan ruangan megah itu. Namun, langkah Angger dan Dania tak sedikit pun terhenti. Pintu utama terbanting keras, mengunci Bram dalam ketakutan dan kehancurannya sendiri.Angger merengkuh bahu Dania rapat-rapat, menuntunnya masuk ke dalam mobilnya. Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit Pusat, Dania hanya membisu. Tatapannya hampa menembus kaca mobil yang dibasahi sisa hujan. Duka yang datang bertubi-tubi telah meremukkan jiwanya hingga tak tersisa.Di rumah sakit, Angger mengambil alih seluruh proses administrasi dan pelunasan medis tanpa hambatan. Dania hanya berdiri kaku di sudut lorong, menyaksikan pria yang sempat dia kira telah tewas itu mengurus jenazah ibunya dengan penuh hormat.---Pemakaman berlangsung tenang dan khidmat. Saat tanah merah menyelimuti peristirahatan terakhir ibunya, Dania berlutut menahan kepedihan yang menyayat."Ibu... maafkan Dania yang terlambat," bisiknya parau.Rasa bersalah mencabik
Last Updated : 2026-09-21 Read more