Dania menatap cemas ke arah nakas. Ponsel milik Angger bergetar nyaring. Di layarnya, nama "Yuni" menyala terang. Dania sempat berniat mengabaikannya, tetapi panggilan itu masuk berulang kali tanpa henti, menyiratkan kepanikan dari seberang sana.Dengan jemari gemetar, Dania akhirnya meraih benda pipih itu dan menggeser ikon hijau."Iya, Yun, ada apa?" sapa Dania, berusaha menetralkan intonasi suaranya yang parau.Suasana hening sejenak di seberang telepon, hingga suara Yuni terdengar bingung. "Mbak Dania? Kok... ponsel Pak Angger ada pada Mbak?"Jantung Dania berdesir hebat. Otaknya berputar cepat mencari alasan paling masuk akal."Maaf, Yun. Tadi ponselnya jatuh di ruang perawatan saat dia mengantar buah," alibi Dania dengan nada setenang mungkin, meski napasnya tertahan."Oh... begitu," sahut Yuni lambat, masih tersisa nada ragu di ujung suaranya. "Ya sudah kalau begitu, Mbak. Maaf mengganggu, aku tutup ya."Sambungan terputus. Dania menghela napas lega, menggenggam ponsel itu rapa
Last Updated : 2026-09-03 Read more