Se connecterDemi mempertahankan rumah tangga dan membalas tuduhan mandul dari suaminya yang mandul, Dania memilih jalan terlarang, dengan bantuan keponakannya sendiri.
Voir plusDania berlutut di tepi ranjang dengan napas tertahan. Di hadapannya, Bram—suaminya—duduk bersandar pada kepala ranjang dengan wajah merah padam menahan dongkol. Laki-laki itu sedang bertelanjang dada, menatap murka ke arah bagian bawah tubuhnya sendiri yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
"Ayo, Dania! Gerakkan tanganmu lebih cepat! Buat benda ini bangun!" bentak Bram, suaranya naik satu oktav, memecah keheningan malam tanpa memperdulikan perasaan istrinya. Dania menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan rasa hina yang merayap di dadanya. Dengan jemari yang gemetar, dia kembali melakukan berbagai cara yang diperintahkan suaminya. Dia membelai, merangsang, dan mencoba segala teknik untuk membangkitkan kejantanan Bram yang loyo. Namun, sekeras apa pun usaha Dania, senjata Bram tetap saja lemas, tidak bisa berdiri tegak, seolah-olah seluruh saraf di sana sudah mati total. Plakk! Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Dania, membuat wajah wanita itu terlempar ke samping. Dania meringis, merasakan panas yang menjalar di kulit pipinya, diikuti dengan air mata yang langsung dia hapus. "Bodoh! Dasar wanita tidak becus!" maki Bram, napasnya memburu penuh frustrasi. Laki-laki itu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sendiri, lalu menunjuk wajah Dania dengan telunjuknya yang bergetar. "Kamu itu tidak becus memuaskan suami, Dania! Tubuhmu kaku seperti mayat, makanya punyaku tidak bisa bangun! Selera makanku hilang setiap kali melihat wajah membosankanmu itu!" Dania hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas seprai. Hinaan itu bukan yang pertama kali dia dengar. Setiap kali Bram gagal menjalankan tugasnya sebagai pria, Dania yang selalu dijadikan kambing hitam "Mas, tolong dengerin aku sekali ini aja," bisik Dania, suaranya bergetar menahan tangis yang siap pecah. Dia mendongak, menatap mata Bram yang masih menyalang penuh amarah. "Ini bukan salah sentuhanku. Kita harus realistis, Mas. Mungkin ada masalah dengan kesehatanmu. Bagaimana kalau besok kita ke dokter spesialis? Kita konsultasi, cari tahu apa penyebab medisnya." Kata 'dokter' dan 'medis' membuat wajah laki-laki itu seketika menegang, jauh lebih merah dari sebelumnya. "Ke dokter?!" Bram berteriak, suaranya menggelegar di dalam kamar yang kedap itu. Dia langsung menyibak selimutnya dan bangkit berdiri di atas ranjang, membuat tubuhnya tampak menjulang tinggi dan mengintimidasi Dania yang masih berlutut di lantai. "Kamu sengaja mau mempermalukan aku, Dania? Hah?!" bentak Bram sambil menendang bantal hingga terlempar ke sudut ruangan. "Kamu mau aku dicap sebagai laki-laki cacat oleh orang lain? Kamu mau dokter-dokter itu menertawakan aku karena punyaku nggak bisa bangun?!" "Enggak, Mas, bukan begitu maksudku..." "Halah, bohong!" potong Bram kejam. Dia meloncat turun dari ranjang, lalu mencengkeram dagu Dania dengan kasar, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam matanya yang melotot. "Kamu itu cuma mau cari alasan untuk menutupi ketidakbecusanmu sebagai istri! Kamu mau cuci tangan dan melempar semua kesalahan ini ke aku, kan? Kamu mau bilang ke semua orang kalau suamimu ini impoten?" Dania meringis kesakitan karena cengkeraman tangan Bram di dagunya begitu kuat. Air matanya meluncur deras, membasahi jemari Bram, namun laki-laki itu sama sekali tidak peduli. Ego dan harga dirinya yang terluka telah menutup seluruh rasa kemanusiaannya. "Lepas, Mas... sakit," rintih Dania. Bram menghempaskan wajah Dania dengan kasar hingga wanita itu hampir tersungkur ke lantai. "Sakit batin aku jauh lebih besar, Dania! Punya istri satu saja tidak bisa diandalkan. Tugasmu itu cuma melayani, membuat suamimu ini tegang dan puas. Tapi apa? Modal tangan pegal sedikit saja kamu sudah menyerah dan langsung menuduh aku sakit!" Laki-laki itu berjalan mondar-mandir seperti orang kesurupan. Dia menendang kursi rias Dania hingga terguling, membuat beberapa botol kosmetik di atasnya jatuh dan pecah berhamburan. Suara pecahan kaca itu berdenting keras, sewarna dengan hati Dania yang hancur berkeping-keping. "Kamu tahu kenapa punyaku loyo?!" Bram berbalik, menunjuk wajah Dania dengan beringas. "Karena kamu tidak ada gairahnya sama sekali! Kamu monoton, kaku, dan membosankan! Perempuan lain di luar sana, tanpa diminta pun tahu cara membuat laki-laki bertekuk lutut. Sementara kamu? Disuruh begini-begitu saja mengeluh!" Dania memeluk lututnya sendiri di lantai, menangis tergugu di antara pecahan botol kaca. Dia merasa sangat hina, tidak hanya fisiknya yang disakiti, tetapi harga dirinya sebagai seorang wanita telah diinjak-injak sampai lumat. Padahal dia sudah memberikan seluruh tenaganya, menurunkan semua egonya demi melayani kelemahan suaminya, namun tetap saja dia yang menjadi tempat sampah bagi kemarahan Bram. Bram mendengus jijik melihat Dania yang hanya bisa menangis. Dia menyambar kaosnya di atas kursi dengan sentakan kasar, lalu memakainya dengan terburu-buru. "Nangis terus kerjaanmu! Bikin suasana makin keruh!" maki Bram, menyambar kunci mobil di atas nakas. "Malam ini aku tidur di luar. Berada satu kamar dengan wanita tidak becus seperti kamu cuma bikin kepalaku pusing!" Tanpa menunggu jawaban dari Dania, Bram melangkah lebar menuju pintu. Dia menarik gagang pintu dan membantingnya dengan kekuatan penuh. Brakk! Pintu tertutup dengan sangat keras, hingga meninggalkan Dania sendirian dalam kamar yang berantakan, bersama rasa frustrasi dan luka yang kian menganga. “Aku harus bagaimana?” isaknya dalam keheningan kamar. Dania memeluk erat kedua lututnya. Dia meringkuk sakit penuh putus asa. Hingga tak terasa pagi kembali menyapa. Seperti biasa Dania menyiapkan sarapan pagi untuk ibu mertua dan suaminya. “Mana, Bram?” tanya Renata, yang merupakan ibu mertua dari Dania. “Ehm…” “Kemana?” “Mas Bram semalam pamit ada urusan mendadak ke luar kota, Bu,” sahut Dania membohongi Renata, sembari meletakkan secangkir kopi hitam diatas meja. Renata mendengus kasar, melirik sinis pada piring nasi goreng yang baru saja disajikan. “Keluar kota atau sengaja menghindari kamu? Ibu yakin Bram itu stres karena setiap pulang ke rumah, dia hanya melihat wajahmu yang lusuh itu.” Wanita tua itu menyesap kopinya perlahan, lalu menatap Dania dari atas ke bawah dengan tatapan menghakimi. “Laki-laki itu kalau di rumah tidak diservis dengan baik, ya pasti tidak akan betah, Dania. Mereka akan mencari yang lebih pintar dan cantik diluaran sana. Sekarang, lihat dirimu, jelek tak keurus. Suami mana yang bernafsu. Kamu itu harusnya tahu diri. Sudah lima tahun menikah tapi belum juga bisa memberikan Bram keturunan, minimal buat suamimu itu senang dan manja di ranjang!” Dania hanya bisa menunduk dalam, meremas ujung celemeknya dengan dada semakin sesak. Kata-kata Renata bak sembilu yang menambah luka dihatinya. Di rumah ini, dia benar-benar sendirian, terjebak di antara suami yang impoten dan ibu mertua yang kejam. Padahal, lima tahun lalu Dania adalah seorang model papan atas yang cantik dan bersinar. Kehidupannya berubah total sejak dia bertemu Bram di sebuah acara amal. Lamaran manis pria itu sukses meluluhkan hatinya, membuat Dania rela melepaskan seluruh karier cemerlangnya demi mengabdi sebagai seorang istri. Namun kini, pengorbanan besar itu justru berbuah neraka. “Dania! Kamu dengar aku bicara tidak?!”Dania perlahan mengangkat kedua tangannya. Menahan dada bidang Angger dengan lembut agar pria itu menghentikan gerakannya.Angger mendongak. Alis tebalnya berkerut tipis, matanya menatap Dania penuh tanya dengan binar gairah yang masih menyala."Ada apa, Sayang?" bisik Angger serak.Dania tersenyum tipis, merapikan helai rambut Angger yang basah oleh keringat tipis di keningnya. Jemarinya lalu beralih menunjuk ke arah perutnya yang membuncit di balik gaun sutra."Jangan berbuat terlalu jauh, Angger..." tegur Dania lembut, suaranya mengandung nada memperingatkan penuh kehati-hatian. "Ingat kata dokter kemarin. Keadaan kandunganku sekarang sudah memasuki bulan-bulan sensitif. Kita tidak boleh ceroboh lagi seperti waktu itu... Aku tidak mau hal buruk terjadi pada anak kita."Mendengar pengingat itu, Angger langsung tersentak sadar. Kilat kepanikan yang sempat menghantuinya malam pendarahan itu seketika melintas di benaknya.Angger terkekeh pelan—sebuah tawa kecil penuh penyesalan diri—la
Pintu kamar rawat VIP itu mendadak terhempas keras hingga menghantam dinding."Jangan pernah berani menandatangani surat itu, Dania!"Suara melengking dan bergetar milik Renata memecah keheningan ruangan. Wanita tua itu muncul dengan dorongan kursi roda yang tergesa-gesa dari seorang pengawal pribadi. Wajahnya yang berkerut nampak merah padam, matanya menyala dipenuhi kepanikan dan amarah yang belum padam.Sofia, Angger, dan Dania seketika membeku.Renata mendorong roda kursinya sendiri hingga mendekat ke tepi ranjang Dania. Dengan telunjuknya yang gemetar, ia menunjuk dokumen perceraian yang masih berada di pangkuan Dania."Jangan pernah kamu mimpi bisa lepas dari keluarga ini begitu saja!" bentak Renata histeris, napasnya tersengal-sengal. "Kalau kamu bercerai dari Bram sekarang, nama keluarga kita akan makin hancur di mata media! Semua orang akan tahu kalau anakku membusuk di penjara dan kamu lari mencari keselamatan sendiri!"Angger langsung pasang badan, melangkah satu tindak mem
"Aku sudah tahu semuanya, Bram," potong Sofia. Matanya menatap lurus menembus manik mata adiknya yang mulai liar dan panik. "Anak yang dikandung Dania adalah milik Angger. Dan kamu menutupi semuanya—pura-pura tidak tahu dan pura-pura sempurna—hanya agar kamu terlihat menang karena sudah membuat Dania hamil di mata dunia dan Ibu!"Kata-kata itu menghantam Bram, menghancurkan seluruh sisa-sisa keangkuhannya. Topeng kesombongan yang bertahun-tahun ia kenakan seketika runtuh, menyisakan sesosok pria malang yang ditelanjangi oleh dosa dan kebohongannya sendiri.Bram mengepalkan jarinya yang gemetar di atas kertas gugatan cerai yang telah ditandatanganinya. Rahangnya mengetat, menahan gelombang rasa malu, amarah, dan kehancuran jiwa yang tak tertahankan. Air mata keputusasaan menetes samar membasahi pakaian tahanannya."Pergilah, Mbak..." titah Bram serak, suaranya begitu lemah, nyaris tenggelam di antara bising udara dingin ruang kunjungan. Ia memalingkan wajahnya ke samping, tak sanggup
Cahaya remang koridor ruang rawat VIP Rumah Sakit Graha Medika terasa dingin mencekam. Sofia berdiri menyandarkan punggungnya pada dinding kaca, menatap putranya yang masih setia duduk mematung di samping ranjang Dania. Di balik tirai tipis, Dania terbaring pucat dengan infus terpasang di punggung tangannya, tertidur lelap di bawah pengaruh obat penenang.Rasa bersalah yang terpancar gila-gilaan dari raut wajah Angger membuat dada Sofia terasa teremas. Sebagai seorang ibu, ia tahu betul jika situasi ini dibiarkan mengambang tanpa kejelasan status, Angger hanya akan terus terjerumus dalam lingkaran dosa dan gairah tak terkendali yang membahayakan nyawa Dania serta janin di rahimnya.Sofia memutar badannya, melangkah masuk ke dalam kamar rawat dengan gerakan anggun."Angger," panggil Sofia lirih namun sarat akan perintah.Angger mendongak, matanya yang memerah menatap ibunya dengan tatapan lelah. "Kenapa, Bu?""Ibu tidak mau tahu. Begitu Dania pulih dan keluar dari rumah sakit ini, kamu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires