로그인Bertahun-tahun Dania menutupi kelemahan suaminya. Tapi malam ini semua berbalik menyalahkan dirinya. "Dasar wanita mandul! Wanita tidak berguna!" Kalimat kejam itu menjadi vonis mati bagi pernikahan Dania. Keputusannya untuk menutupi aib suaminya, malah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Disalahkan hingga dikhianati menjadi puncak dari kesabaran seorang Dania. Di tengah keputusasaannya, datanglah seorang pemuda tampan dengan status keponakan suaminya membuka celah perselingkuhan indah. Pemuda itu menutup luka dan kecewa dihati Dania. Bagimana kelanjutan rumah tangga Dania? Akankah berlanjut atau berakhir dengan perceraian? Dan aib apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Dania?
더 보기Dania berlutut di tepi ranjang dengan napas tertahan. Di hadapannya, Bram—suaminya—duduk bersandar pada kepala ranjang dengan wajah merah padam menahan dongkol. Laki-laki itu sedang bertelanjang dada, menatap murka ke arah bagian bawah tubuhnya sendiri yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
"Ayo, Dania! Gerakkan tanganmu lebih cepat! Buat benda ini bangun!" bentak Bram, suaranya naik satu oktav, memecah keheningan malam tanpa memperdulikan perasaan istrinya. Dania menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan rasa hina yang merayap di dadanya. Dengan jemari yang gemetar, dia kembali melakukan berbagai cara yang diperintahkan suaminya. Dia membelai, merangsang, dan mencoba segala teknik untuk membangkitkan kejantanan Bram yang loyo. Namun, sekeras apa pun usaha Dania, senjata Bram tetap saja lemas, tidak bisa berdiri tegak, seolah-olah seluruh saraf di sana sudah mati total. Plakk! Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Dania, membuat wajah wanita itu terlempar ke samping. Dania meringis, merasakan panas yang menjalar di kulit pipinya, diikuti dengan air mata yang langsung dia hapus. "Bodoh! Dasar wanita tidak becus!" maki Bram, napasnya memburu penuh frustrasi. Laki-laki itu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sendiri, lalu menunjuk wajah Dania dengan telunjuknya yang bergetar. "Kamu itu tidak becus memuaskan suami, Dania! Tubuhmu kaku seperti mayat, makanya punyaku tidak bisa bangun! Selera makanku hilang setiap kali melihat wajah membosankanmu itu!" Dania hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas seprai. Hinaan itu bukan yang pertama kali dia dengar. Setiap kali Bram gagal menjalankan tugasnya sebagai pria, Dania yang selalu dijadikan kambing hitam "Mas, tolong dengerin aku sekali ini aja," bisik Dania, suaranya bergetar menahan tangis yang siap pecah. Dia mendongak, menatap mata Bram yang masih menyalang penuh amarah. "Ini bukan salah sentuhanku. Kita harus realistis, Mas. Mungkin ada masalah dengan kesehatanmu. Bagaimana kalau besok kita ke dokter spesialis? Kita konsultasi, cari tahu apa penyebab medisnya." Kata 'dokter' dan 'medis' membuat wajah laki-laki itu seketika menegang, jauh lebih merah dari sebelumnya. "Ke dokter?!" Bram berteriak, suaranya menggelegar di dalam kamar yang kedap itu. Dia langsung menyibak selimutnya dan bangkit berdiri di atas ranjang, membuat tubuhnya tampak menjulang tinggi dan mengintimidasi Dania yang masih berlutut di lantai. "Kamu sengaja mau mempermalukan aku, Dania? Hah?!" bentak Bram sambil menendang bantal hingga terlempar ke sudut ruangan. "Kamu mau aku dicap sebagai laki-laki cacat oleh orang lain? Kamu mau dokter-dokter itu menertawakan aku karena punyaku nggak bisa bangun?!" "Enggak, Mas, bukan begitu maksudku..." "Halah, bohong!" potong Bram kejam. Dia meloncat turun dari ranjang, lalu mencengkeram dagu Dania dengan kasar, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam matanya yang melotot. "Kamu itu cuma mau cari alasan untuk menutupi ketidakbecusanmu sebagai istri! Kamu mau cuci tangan dan melempar semua kesalahan ini ke aku, kan? Kamu mau bilang ke semua orang kalau suamimu ini impoten?" Dania meringis kesakitan karena cengkeraman tangan Bram di dagunya begitu kuat. Air matanya meluncur deras, membasahi jemari Bram, namun laki-laki itu sama sekali tidak peduli. Ego dan harga dirinya yang terluka telah menutup seluruh rasa kemanusiaannya. "Lepas, Mas... sakit," rintih Dania. Bram menghempaskan wajah Dania dengan kasar hingga wanita itu hampir tersungkur ke lantai. "Sakit batin aku jauh lebih besar, Dania! Punya istri satu saja tidak bisa diandalkan. Tugasmu itu cuma melayani, membuat suamimu ini tegang dan puas. Tapi apa? Modal tangan pegal sedikit saja kamu sudah menyerah dan langsung menuduh aku sakit!" Laki-laki itu berjalan mondar-mandir seperti orang kesurupan. Dia menendang kursi rias Dania hingga terguling, membuat beberapa botol kosmetik di atasnya jatuh dan pecah berhamburan. Suara pecahan kaca itu berdenting keras, sewarna dengan hati Dania yang hancur berkeping-keping. "Kamu tahu kenapa punyaku loyo?!" Bram berbalik, menunjuk wajah Dania dengan beringas. "Karena kamu tidak ada gairahnya sama sekali! Kamu monoton, kaku, dan membosankan! Perempuan lain di luar sana, tanpa diminta pun tahu cara membuat laki-laki bertekuk lutut. Sementara kamu? Disuruh begini-begitu saja mengeluh!" Dania memeluk lututnya sendiri di lantai, menangis tergugu di antara pecahan botol kaca. Dia merasa sangat hina, tidak hanya fisiknya yang disakiti, tetapi harga dirinya sebagai seorang wanita telah diinjak-injak sampai lumat. Padahal dia sudah memberikan seluruh tenaganya, menurunkan semua egonya demi melayani kelemahan suaminya, namun tetap saja dia yang menjadi tempat sampah bagi kemarahan Bram. Bram mendengus jijik melihat Dania yang hanya bisa menangis. Dia menyambar kaosnya di atas kursi dengan sentakan kasar, lalu memakainya dengan terburu-buru. "Nangis terus kerjaanmu! Bikin suasana makin keruh!" maki Bram, menyambar kunci mobil di atas nakas. "Malam ini aku tidur di luar. Berada satu kamar dengan wanita tidak becus seperti kamu cuma bikin kepalaku pusing!" Tanpa menunggu jawaban dari Dania, Bram melangkah lebar menuju pintu. Dia menarik gagang pintu dan membantingnya dengan kekuatan penuh. Brakk! Pintu tertutup dengan sangat keras, hingga meninggalkan Dania sendirian dalam kamar yang berantakan, bersama rasa frustrasi dan luka yang kian menganga. “Aku harus bagaimana?” isaknya dalam keheningan kamar. Dania memeluk erat kedua lututnya. Dia meringkuk sakit penuh putus asa. Hingga tak terasa pagi kembali menyapa. Seperti biasa Dania menyiapkan sarapan pagi untuk ibu mertua dan suaminya. “Mana, Bram?” tanya Renata, yang merupakan ibu mertua dari Dania. “Ehm…” “Kemana?” “Mas Bram semalam pamit ada urusan mendadak ke luar kota, Bu,” sahut Dania membohongi Renata, sembari meletakkan secangkir kopi hitam diatas meja. Renata mendengus kasar, melirik sinis pada piring nasi goreng yang baru saja disajikan. “Keluar kota atau sengaja menghindari kamu? Ibu yakin Bram itu stres karena setiap pulang ke rumah, dia hanya melihat wajahmu yang lusuh itu.” Wanita tua itu menyesap kopinya perlahan, lalu menatap Dania dari atas ke bawah dengan tatapan menghakimi. “Laki-laki itu kalau di rumah tidak diservis dengan baik, ya pasti tidak akan betah, Dania. Mereka akan mencari yang lebih pintar dan cantik diluaran sana. Sekarang, lihat dirimu, jelek tak keurus. Suami mana yang bernafsu. Kamu itu harusnya tahu diri. Sudah lima tahun menikah tapi belum juga bisa memberikan Bram keturunan, minimal buat suamimu itu senang dan manja di ranjang!” Dania hanya bisa menunduk dalam, meremas ujung celemeknya dengan dada semakin sesak. Kata-kata Renata bak sembilu yang menambah luka dihatinya. Di rumah ini, dia benar-benar sendirian, terjebak di antara suami yang impoten dan ibu mertua yang kejam. Padahal, lima tahun lalu Dania adalah seorang model papan atas yang cantik dan bersinar. Kehidupannya berubah total sejak dia bertemu Bram di sebuah acara amal. Lamaran manis pria itu sukses meluluhkan hatinya, membuat Dania rela melepaskan seluruh karier cemerlangnya demi mengabdi sebagai seorang istri. Namun kini, pengorbanan besar itu justru berbuah neraka. “Dania! Kamu dengar aku bicara tidak?!”"Syaratnya, izinkan aku bekerja, Mas!" tegas Dania dengan pandangan lurus menantang.Bram tampak terdiam sejenak, menimbang-nimbang tawaran itu dengan raut wajah yang sulit ditebak. Senyum picik perlahan kembali terukir di bibirnya."Boleh. Tapi cuma di kantorku," sahut Bram dingin. "Kamu akan mulai dari bawah sebagai karyawan biasa. Pengalamanmu di dunia bisnis juga nol. Dulu kamu hanya seorang model yang mengandalkan penampilan, bukan kemampuan mengelola perusahaan. Jadi, jangan berharap gajimu bisa menyamai Siska.Dada Dania bergemuruh hebat mendengar hinaan telak yang terlontar begitu santai dari mulut suaminya sendiri. Setiap kata yang diucapkan Bram bagai sembilu yang sengaja dilontarkan untuk menjatuhkan harga dirinya. Dania mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan gejolak amarah yang hampir meledak.Tapi, setelah dipikir-pikir, Dania akhirnya setuju. Dari pada harus terus terkurung di rumah itu, menjadi sasaran intimidasi dari suami dan mertuanya, setidaknya di kantor memberin
Bagaimana bisa suaminya sudah berada di kamar? Sementara baru saja Angger menyelesaikan aksi liarnya di atas tempat tidur itu."Sejak... sejak kapan kamu ada di situ, Mas?" suara Dania bergetar hebat, panik setengah mati berusaha menutup bagian dada pakaiannya yang agak kusut."Sejak aku mendengar suara berisik dari dalam kamar ini!" sahut Bram tegas, matanya menyapu sekeliling ruangan dengan pandangan tajam penuh rasa waspada.Seketika Dania mengembuskan napas lega. Beruntung Bram baru saja tiba dan hanya mendengar kegaduhan samar, bukan melihat langsung adegan panas yang baru saja berlangsung antara dirinya dan Angger.Tanpa mengulur waktu, Bram melangkah lebar mendekati tempat tidur. Wajahnya mengeras. Sebelum Dania sempat berdiri tegak, cengkeraman kasar Bram sudah mendarat di kerah baju istrinya, menarik tubuh Dania hingga makin terkunci di hadapannya."Dengar baik-baik, Dania. Jangan membangkang lagi," bisik Bram dingin, tepat di depan wajah Dania. "Kamu ikuti semua kata-kata Ib
Sebelum jeritan panik sempat lolos dari mulut Dania, sosok itu sudah memutar tubuhnya dan menyergap bibirnya dengan ciuman panas. Sentuhan bibir yang basah dan menuntut itu terlalu familiar. Aroma parfum maskulin yang tajam langsung menguasai indra penciuman Dania. Angger. Keponakan berengsek itu sudah berada di dalam kamarnya.Dania membelalakkan mata, meronta dalam kungkungan tangan kekar pemuda itu. Angger melumat bibir Dania dengan penuh rasa lapar, mengunci pergerakan kepalanya hingga wanita itu kehabisan napas. Setelah beberapa saat menikmati penyatuan paksa itu, Angger perlahan melepaskan tautan bibir mereka, menyisakan napas keduanya yang terengah-engah dalam keheningan malam."Ka-kamu... bagaimana bisa kamu ada di sini?!" bisik Dania setengah menjerit, suaranya bergetar hebat lantaran rasa panik yang membakar dadanya. Matanya bergerak liar menatap pintu kamar yang terkunci, takut jika Bram atau Renata mendadak mendobrak masuk. "Lewat mana kamu masuk, Angger?!"Angger tidak l
Ponsel Dania di atas nakas terus bergetar tanpa henti. Bram yang curiga langsung bergerak cepat, berniat merampas benda pipih itu dari genggaman istrinya."Siapa yang menelepon malam-malam begini, hah?!" bentak Bram beringas, menyambar pergelangan tangan Dania."Bukan siapa-siapa! Lepas, Mas!" teriak Dania panik. Dia memutar tubuh, merengkuh ponselnya erat-erat ke dada."Jangan bohong! Jangan-jangan kamu punya simpanan di luar, makanya menolak melayaniku?!" tuduh Bram.Renata yang berdiri di ambang pintu ikut memanas-manasi. "Nah, benar kan! Rebut HP-nya, Bram! Wanita tidak tahu diri ini pasti menyembunyikan sesuatu!"Aksi tarik-menarik tak terelakkan. Dengan sisa tenaganya, Dania mempertahankan ponselnya. Tepat saat genggaman Bram hampir terlepas, panggilan itu mati dan berganti dengan notifikasi pesan di layar. Dania melirik kilat isi pesan singkat dari Angger tersebut:"Tante, aku cuma mau bilang... aku kangen."Dania menarik napas tajam. Kepalanya makin berdenyut. Di saat rumah ta
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰