Keesokan harinya, suasana di lantai lima kantor itu terasa menyesakkan bagi Vior. Begitu ia melangkah masuk, tatapan mata rekan-rekannya seolah menjadi sorotan lampu tajam yang membedah setiap inchi wajahnya. Berita tentang video viral di kafe itu telah menyebar seperti api di padang rumput, dan hampir semua orang di lantai itu telah menontonnya."Vior! Kau baik-baik saja?" tanya Sarah, salah satu rekan kerjanya, dengan wajah yang sarat akan rasa kasihan dan penasaran. "Kami semua melihat videonya. Itu sangat keterlaluan, Rio benar-benar tidak punya hati!"Vior berusaha menampilkan senyum setenang mungkin, meski hatinya terasa tercabik-cabik. "Aman. Kemarin aku hanya syok, makanya aku izin kerja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," jawabnya singkat.Tiba-tiba, Pak Rizal, pria paruh baya yang paling senang bergosip di kantor, mendekat dengan mata berbinar-binar. "Oh, Vior! Kau tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Temanku yang bekerja di divisi Rio bilang, kemarin Pak Elian tib
Read more