Vior duduk terdiam di dalam mobil Elian, menatap kosong ke arah lampu jalan yang berbayang di balik kaca. Rasa sesak di dadanya tak kunjung mereda. Setelah kejadian di mansion tadi, ia merasa telah melewati garis batas kewarasannya. Ia bukan lagi sekadar karyawan yang membantu bosnya melakukan aksi balas dendam; ia merasa telah menjadi mainan yang diperebutkan dalam permainan kekuasaan yang kejam."Saya turun di depan saja, Pak," ucap Vior pelan, memecah keheningan yang mencekam di dalam kabin mobil.Elian meliriknya sekilas, rahangnya mengeras. "Saya antar kamu sampai depan rumah, Vior. Ini belum aman.""Tidak perlu, Pak," jawab Vior dengan suara sedikit bergetar. "Saya lanjut naik taksi saja. Dan... sepertinya, saya tidak bisa melanjutkan sandiwara ini lagi."Elian menginjak rem, mobil berhenti mendadak di pinggir jalan yang cukup ramai. Pria itu terdiam, tangannya mencengkeram kemudi dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak menoleh, namun Vior bisa merasakan a
Last Updated : 2026-06-12 Read more