MasukSyuting sesi pagi akhirnya rampung tepat pukul satu siang. Suara pengumuman "Cut!" dari sutradara disambut helaan napas lega dari seluruh tim. Nathasa segera dikerubungi asistennya untuk memperbaiki riasan, sementara Elian tampak sibuk berdiskusi serius dengan fotografer di sudut studio.Vincent, yang sedari tadi mondar-mandir membantu lighting, segera menghampiri Vior yang sedang merapikan lembaran skrip."Vior! Akhirnya selesai juga sesi pertama," seru Vincent ceria. "Aku lapar sekali. Bagaimana kalau kita makan siang di kafe depan? Katanya ada pasta baru yang enak di sana. Kamu mau ikut?"Vior sempat melirik ke arah Elian. Elian sedang menatap layar kamera, namun sudut matanya jelas tertuju pada arah mereka. Vior merasakan aura dingin yang memancar dari sana, tetapi ia mengabaikannya. Kehadiran Vincent yang ceria terasa seperti udara segar yang sangat ia butuhkan."Boleh, Vincent. Aku juga butuh asupan karbohidrat setelah otakku diputar seharian," jawab Vior tersenyum."Sip! Teman-
Mobil Elian berhenti tepat di depan lobi apartemen Vior. Lampu jalan yang remang-remang membuat bayangan mereka di dalam mobil tampak samar. Tanpa menunggu Elian mematikan mesin, Vior segera melepas sabuk pengamannya."Terima kasih tumpangannya, Pak. Saya langsung istirahat ya, Bapak juga hati-hati di jalan," ucap Vior cepat, memberikan isyarat tangan agar Elian tidak perlu repot-repot keluar untuk membukakan pintu.Elian terdiam sejenak, memperhatikan raut wajah Vior yang memang terlihat benar-benar lelah. Pria itu mengembuskan napas, memaklumi bahwa jarak yang Vior buat malam ini adalah cara gadis itu untuk menjaga kewarasannya sendiri."Baiklah. Istirahatlah, Vior. Sampai jumpa besok di lokasi syuting," jawab Elian lembut. Ia hanya mengangguk kecil, membiarkan Vior turun dan melangkah masuk ke lobi tanpa menoleh lagi.Tiga hari berlalu dengan cepat, dan hari yang ditunggu—sekaligus ditakuti—itu akhirnya tiba. Suasana studio di lantai dua kantor Baskara Group mendadak berubah menja
Langkah kaki Vior yang terburu-buru menuju lobi terhenti saat ia mendengar derap langkah yang familiar di belakangnya. Tanpa menoleh pun, ia sudah tahu siapa itu. Aroma parfum woody yang khas milik Elian menyeruak, memenuhi ruang di sekitarnya."Vior, tunggu ," suara Elian memanggil. Pria itu menyamakan langkahnya dengan Vior, berjalan di sisi kiri dengan tenang. "Aku antar pulang malam ini, ya"Vior menoleh, memberikan senyum tipis yang terasa dipaksakan. "Tidak perlu, Pak. Saya ingin naik taksi saja. Lagipula, Bapak pasti lelah setelah rapat tadi. Sebaiknya Bapak langsung istirahat." Vior mempercepat langkahnya, berharap Elian mengerti dan berhenti mengekorinya.Elian tidak berhenti. Ia justru mempercepat langkahnya sedikit agar bisa menghalangi jalan Vior tepat di depan pintu keluar lobi. "Aku tidak sedang menawarkan pilihan, Vior. Aku sedang mengajakmu pulang."Vior menghela napas panjang, matanya menatap Elian dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tahu Elian melakukan ini k
Elian menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya ibu jarinya menekan ikon panggil. Napasnya teratur, mencoba menekan detak jantung yang terasa tidak beraturan. Ia harus melakukan ini, bukan karena ia masih memiliki sisa perasaan, melainkan demi menuntaskan bayang-bayang yang terus mengintainya.Dering ketiga, panggilan itu tersambung."Halo, Elian?" Suara Nathasa di seberang telepon terdengar sangat santai, hampir ceria."Nathasa," Elian berdeham, berusaha menjaga suaranya tetap formal. "Ini soal kontrak iklan properti. Aku sudah menandatanganinya."Terdengar tawa kecil dari Nathasa. "Oh, benarkah? Tumben sekali CEO Baskara yang kaku ini melunak. Apa timmu yang menekannya?""Dengar," Elian memotong, suaranya sedikit meninggi. "Aku setuju karena aku tidak punya pilihan lain untuk proyek ini. Tapi aku ingin kita menjaga batasan yang jelas. Ini murni profesional. Aku tidak ingin ada masa lalu yang ikut campur di sini."Nathasa terdiam sejenak, namun nada suaranya tetap tenang
Suasana ruang rapat pagi itu terasa begitu berat. Di atas meja kayu panjang, berkas-berkas proposal proyek iklan properti Baskara Group tertata rapi. Pak Rizal, sebagai kepala tim, duduk dengan wajah serius, sesekali mengetuk-ngetukkan pulpen ke tabletnya. Di sisi lain meja, Vior duduk terdiam, matanya menatap kosong pada layar monitor. Ia mencoba sekuat tenaga untuk tidak melirik ke arah Elian yang duduk di ujung meja sebagai pemimpin rapat."Pak Elian," suara Pak Rizal memecah kesunyian yang kental. "Kami sudah melakukan riset mendalam. Jika kita berbicara soal angka, profesionalisme, dan dampak pasar, Nathasa adalah pilihan mutlak. Popularitasnya sedang di puncak, dan agensinya menawarkan syarat yang sangat masuk akal bagi perusahaan. Mengganti model sekarang hanya akan membuat kita membuang waktu dan anggaran."Elian menyilangkan tangan di dada. Matanya tidak beralih dari satu titik di dinding, namun rahangnya mengeras. "Saya sudah bilang, cari opsi lain.""Dengan segala hormat,
Setelah meletakkan buku yang sedari tadi tidak benar-benar ia resapi, Elian meraih ponselnya dengan tangan yang sedikit bergetar karena emosi yang masih tersisa dari pertemuan dengan ibunya. Layar menyala, menampilkan wajah Vior yang tersambung dalam panggilan video.Vior tampak sudah bersiap untuk tidur, rambutnya tergerai acak di atas bantal, memberikan kesan yang begitu lembut dan kontras dengan kekakuan yang baru saja Elian hadapi. Saat Vior bergerak untuk membetulkan posisi tidurnya, kerah baju tidurnya yang sedikit longgar melorot, memperlihatkan sekilas kulit di bagian dadanya. Jantung Elian berdegup kencang, sebuah sensasi hangat yang tidak terduga menghantam dadanya. Ia buru-buru mengalihkan pandangan sejenak, menenangkan napasnya sebelum kembali menatap layar."Sudah mau tidur?" tanya Elian, suaranya sedikit lebih berat dari biasanya.Vior tersenyum, senyum yang membuat bahu Elian yang tegang perlahan turun. "Iya, baru saja mau rebahan. Kamu sendiri? Tadi katanya ada urusan
Vior duduk di atas sofa beludru yang harganya mungkin setara dengan seluruh isi kamar kosnya. Ia tidak lagi memiliki keberanian untuk tampil provokatif atau berani seperti malam sebelumnya. Tetapi otaknya tetap memikirkan cara untuk melakukan hal unik yang mungkin akan di benci oleh wanita paruh bay
"Ta-tapi Nyonya.." Vior terbata, tenggorokannya tercekat oleh rasa cemas yang mendadak muncul. Ia tidak menyangka permainan sandiwara ini akan menyeretnya ke dalam labirin yang begitu dalam dan menyesakkan. "Tidak ada kata tapi," potong Nyonya Saraswati dengan nada yang lembut namun mengancam, sep
Mobil mewah Elian melaju membelah jalanan kota yang mulai basah diguyur sisa hujan. Suasana di dalam kabin terasa kontras dengan dinginnya udara malam di luar. Elian, yang biasanya selalu tenang dan terukur dalam segala hal, sesekali melepaskan tawa renyah yang terasa sangat asing di telinganya sen
"Nyonya Besar, Nyonya Saraswati... ada... ada masalah di luar," ucap pelayan itu terbata-bata, keringat dingin membasahi keningnya. Nyonya Saraswati mengabaikan pelayan itu dan beralih menatap putranya dengan tatapan tajam bak silet. "Elian, jelaskan. Apa-apaan ini? Kau membawa wanita murahan,







