"Astaga!" Bita terperanjat kaget. Buku di dekapannya hampir saja terlepas saat tau-tau dua laki-laki jatuh bertekuk lutut di hadapannya, tepat dibelokan selasar gedung menuju ruang kuliahnya siang ini. Vino yang baru saja mendorong Angga dan Devon hingga jatuh membentak keduanya tanpa ampun, "Cepet ngomong!" "Gue minta maaf udah bikin lo kesusahan ngerjain tugasnya, Ta." Angga berucap dengan suara bergetar. Sudut bibirnya berdarah. Luka lebam menghiasi wajahnya. "Gue juga, Ta," timpal Devon. Sama seperti Angga, wajahnya juga babak belur. "Maaf karena nggak ngerjain tugas yang udah lo bagi." Vino menatap Bita meminta pendapat. "Gimana, Ta?" Berada di situasi yang serba tiba-tiba ini—dua orang babak belur yang mendadak bersujud dan memohon maaf—membuat Bita tidak siap. Ia membutuhkan setidaknya lima detik untuk akhirnya menganggukkan kepala. "Iya aku maafin." "Tapi jangan maaf doang kalian," sanggah Vino. Berdiri dibelakang mereka dengan berkacak pinggang. "Emang maaf ka
Read more