LOGINHari-hari berganti hingga tanpa terasa, tinggal seminggu lagi sebelum pernikahan Meta digelar. Jemari Bita saling meremas gelisah di atas pangkuannya. Di sampingnya, Bram duduk dengan tenang di sofa ruang keluarga, sementara di hadapan mereka duduk Aksa. Bita sudah tahu tujuan kedatangan laki-laki itu. Tadi pagi, Vino sudah memberitahunya bahwa Aksa akan datang untuk meminta izin kepada Bram membawanya ke London menghadiri pernikahan Meta. Aksa duduk dengan sikap tenang, meski jemarinya sesekali saling bertaut di atas paha. Setelah beberapa saat, ia membuka percakapan lebih dulu. "Proyek Om yang kemarin gimana? Udah selesai?" Bram mengangguk. "Sudah. Tinggal serah terima sama beberapa bagian kecil." "Wah, cepat juga, Om." "Kalau sesuai jadwal memang harusnya begitu. Tapi namanya proyek, pasti ada aja kendalanya." Bram terkekeh kecil. "Kadang material telat, tenaga kerja kurang, belum lagi kala
Setelah hari ketika Bita bertemu Jesika, wanita itu tak pernah lagi muncul. Hidup Bita kembali seperti semula tanpa gangguan.Yang berbeda hanya satu: Vino.Seolah ingin membuktikan bahwa ia layak untuk Bita, bahwa ia mampu menjaga dan membahagiakannya, laki-laki itu mulai mengubah kebiasaannya.Kalau biasanya pagi-pagi Vino sudah mandi lalu nongkrong di depan rumah Bita sambil meminta sarapan, kini ia mulai rutin lari pagi. Tak hanya itu, ia bahkan mendaftarkan diri menjadi member gym.Waktu istirahat yang biasanya laki-laki itu habiskan dengan nongkrong di gazebo sambil bercanda bersama Martin dan teman-temannya, kini mulai ia gunakan untuk belajar di perpustakaan. Perubahan itu membuat Bita senang bukan main karena ia jadi bisa membaca novel sambil menemani Vino belajar.Vino juga mulai belajar berinvestasi meski masih dalam jumlah kecil. Seolah sedang menata masa depannya dan tentu saja, masa depan yang ingin ia bangun bersama Bita.
Suara dering ponsel kembali terdengar di dalam mobil Toyota Yaris milik Sasha. Gadis itu melirik sekilas ke layar ponsel yang tergeletak di pangkuan Bita. Nama Vino kembali tertera di sana.Sasha mengangkat pandangan. Bita masih menghadap ke jendela samping, menatap keluar dengan tatapan kosong.Sejak mereka meninggalkan tempat futsal, nama yang sama terus muncul di layar ponsel Bita. Sudah lebih dari dua puluh panggilan, tetapi satu pun tak diangkat. Entah berapa panggilan lagi sampai akhirnya Bita mau mengangkatnya.Sasha kembali memusatkan pandangan ke jalan.Sejujurnya, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Tadi Bita bilang dirinya baik-baik saja. Bahkan sempat tersenyum dan meyakinkannya agar tidak perlu khawatir. Namun begitu masuk ke mobil, gadis itu nyaris tidak berbicara sama sekali.Ketika panggilan pertama masuk, Bita hanya melirik layar sebentar sebelum membiarkannya berdering hingga mati. Setelah itu, setiap kali nama Vino
Bagaimana mungkin hati seorang perempuan tidak hancur ketika mengetahui pacarnya, meski hubungan mereka masih terhalang restu, ternyata pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain? Terlebih ketika perempuan itu datang dengan penampilan yang begitu mencolok seperti Jesika. Martin sempat mengira Bita akan menunjukkan tanda-tanda terluka. Bahkan Sasha sudah bersiap merangkulnya jika gadis itu sampai menangis. Namun, dugaan mereka meleset. Bita justru tertawa. Tawanya membuat Martin, Sasha, bahkan Jesika terdiam. Senyum pongah di wajah Jesika pun perlahan memudar. “Oh, jadi kamu Jesika?” Bita akhirnya bersuara setelah tawanya mereda. “Maaf, tadi aku nggak ngenalin. Vino nggak pernah nyebutin ciri-ciri kamu. Dia cuma bilang, kamu itu cewek yang dulu secara sukarela dia jadikan pelampiasan.” “Vino cerita sama lo, Ta?” tanya Martin, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Bita meng
Bita berjalan berdampingan dengan Sasha menuju area futsal. Ia sebenarnya sempat ingin membawa sesuatu yang lain, tetapi setelah dipikir-pikir, ia justru kebingungan sendiri. Vino bukan tipe yang suka ngemil, apalagi makanan manis. Jadi setelah cukup lama mempertimbangkannya, Bita akhirnya hanya membawakannya Americano yang sudah pasti di sukai laki-laki itu.Begitu memasuki bagian dalam, suara riuh permainan langsung menyambut mereka. Teriakan para pemain, suara sepatu beradu dengan lantai, dan bunyi bola yang sesekali menghantam jaring pembatas terdengar dari beberapa arah.“Lapangan yang mana?” Sasha bertanya sambil celingukan.“Gatau. Vino cuma bilang main futsal.”Mereka akhirnya berjalan menyusuri sisi luar jaring pembatas, melewati satu lapangan yang sedang dipakai beberapa orang bermain. Bita sempat melirik ke dalam, tetapi tidak menemukan sosok yang dicari.Mereka terus berjalan. Di lapangan berikutnya, beberapa pemain
“Nanti aku pulangnya bareng Sasha,” ucap Bita setelah turun dari motor Vino dan melepas helmnya begitu mereka tiba di parkiran kampus.Gerakan Vino yang hendak melepas helmnya terhenti. Ia menatap Bita. “Emang kalian mau ke mana? Mau jajan bareng?”“Hafal banget, Bang? Perhatiin aku banget, ya?” goda Bita.Sejak mereka sama-sama mengetahui perasaan masing-masing, Bita memang semakin sering menggoda Vino dengan kalimat-kalimat semacam itu. Dan bukannya terganggu, Vino justru menikmatinya.Vino tersenyum dari balik helmnya, lalu menjepit hidung Bita begitu saja. “Gimana nggak hafal? Pipi kamu aja udah kayak mochi saking seringnya jajan.”Bita segera menangkup kedua pipinya. “Aku kelihatan gendut?” Gadis itu bahkan sempat berkaca melalui spion motor Vino, memperhatikan kedua sisi wajahnya sebelum mendesah lesu. “Aku gendut.”Seketika tawa Vino membahana di parkiran. “Bercanda, Ta. Lagian pipi kamu dari dulu emang begitu.”“
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be







