เข้าสู่ระบบ"Biarin."Mama berbalik mengaduk teh, sementara Vino masih terpaku di tempatnya dengan raut tak habis pikir. Sikap Mami ini mengingatkannya akan pertama kali ia mengadu pada Maminya, dan yang wanita itu katakan hanyalah menyuruhnya membiarkan dan kalau perlu melupakan."Terus Mami mau diem aja? Papa keluar dari hotel sama wanita lain. Dan aku yakin bukan cuma buat pergi makan, tapi—""Mami harus apa?" potong Mami lirih. Tidak ada amarah ataupun nada meninggi. Hanya kelelahan yang tak lagi mampu ia sembunyikan.Vino mengembuskan napas kasar. Jemarinya mengepal sebelum kembali mengendur."Marah, Mi." Sorot matanya mengunci wajah Mami. "Setidaknya marah."Mami terdiam."Temuin Papa. Bilang kalau Mami udah tahu semuanya." Suara Vino mulai bergetar, menahan emosi yang sejak tadi ia tekan. "Sebagai istri sah, Mami bukan cuma punya hak untuk marah, tapi juga bertindak tegas."Keheningan kembali memenuhi dapu
"Mami udah! Vino nggak bisa napas, Mam!" Vino mencoba melepaskan pelukan Maminya yang kelewat erat seperti tidak bertemu dengannya selama sekian dasawarsa. Namun wanita itu terus mendekapnya dan menimangnya seakan ia masih anak kecil."Kamu kok gitu sama Mami? Mami kangen tau! Utututu anak Mami yang paling ganteng, manis, dan agak lumayan nakal tapi tetep ganteng sedunia!""Mama udah!" seru Vino nelangsa. Harga dirinya yang ia junjung tinggi dengan begitu mudahnya dibanting Mami."Lama nggak ketemu, kamu jadi makin dewasa aja! Nggak mau, ah. Mami pengen kamu masih kecil, imut, dan bau bedak!""Baru juga ketemu beberapa minggu lalu.""Tapi kan ketemunya cuma seuprit. Nggak mengobati kangennya Mami!""Yaudah nggak usah pergi-pergi. Di rumah aja."Senyum Mami sedikit melemah. Ia mengusap pelan lengan Vino sebelum melepaskan pelukan mereka, lalu menatap putra tunggalnya yang masih tidak disangkanya telah tumbuh dewasa itu. "Mami kan butuh refresing, sayang. Mumpung tulang dan persendian
"Kenapa berhenti di sini?" protes Bita saat Vino memberhentikan motornya di depan rumah gadis itu. "Buat nurunin lo. Kan udah nyampe." "Tapi aku pengen ke rumah kamu aja." Vino menoleh, menegaskan dengan suaranya yang berat. "Lo pulang aja. Belajar. Katanya mau dapet nilai bagus? Gue nggak akan mencelakai Fero kalo itu yang lo takutkan." Bita menggeleng pelan. "Aku ... kamu nggak papa?" Alis tebal Vino tertaut tampak bingung. "Emang gue kenapa?" Sepertinya memang benar. Vino sudah mengetahui perselingkuhan Papanya. Karena jika belum, sudah dapat Bita pastikan laki-laki itu akan menjalankan motornya dengan ugal-ugalan, dan ekspresi yang ditampakkannya sekarang tidak akan setenang ini. Mungkin ini juga yang membuat Vino, setiap kali Papanya pulang, selalu memilih pergi dari rumah. Lalu Mami yang juga tak betah berada di rumahnya sendiri, dan lebih memilih menghabiskan waktu untuk b
Ujung ban depan motor Vino berhenti di depan garis zebra cross. Diikuti Honda Civic milik Fero yang berhenti mulus di sisi kirinya. Sama-sama menunggu lampu lalu lintas berganti warna. Kaca jendela yang turun setengah membuat pantulan sosok Fero yang terlihat dari kaca spion menyapa lapang pandang Bita. Dengan artian baik Fero maupun Bita mampu melihat satu sama lain. Bita kontan memindahkan wajahnya memaling ke kanan, dan berusaha sebisa mungkin tidak terlihat dari balik helm Vino. Diliriknya penghitung mundur yang menggantung di atas. Masih empat puluh dua detik lagi menuju hijau. Sementara pantatnya sudah panas sekali duduk di atas motor Vino. Bukan karena joknya yang lumayan tinggi hingga memaksa pantatnya agak terangkat. Namun genggaman tangan Vino yang belum mau membebaskan lengannya. Bahkan Vino hanya mengendarai dengan satu tangan. Seakan jika tidak di tahan oleh tangannya, Bita akan langsung terbang tersapu angin. Lebih-lebih posisi duduk mereka yang nyaris tanpa
"Aku nggak mau kalo kamu sampai macem-macem sama Fero."Untuk kesekian kalinya, Bita memberikan peringatan pada Vino. Duduk menyamping di atas motor dengan tangan bersedekap dada, Vino mendengus dari balik helmnya. "Emang gue mau ngapain Fero? Muka gue keliatan kayak kriminal?"Helm yang sudah terpasang di kepalanya, membuat wajah Vino hanya terlihat separuh. Namun dari bagian matanya yang tampak, Bita jelas melihat kilat bahaya yang cukup membuatnya yakin kemana semua ini akan bermuara."Kalo tujuan kamu mengajak Fero ke rumah kamu supaya kamu bisa leluasa menekannya, aku nggak akan ngomong sama kamu satu tahun full.""Emang tahan? Gue kecup dikit desah juga lo."Netra Bita membulat besar. "Vino!" Ditaboknya lengan laki-laki itu."Bener, kan?""Udah aku bilang jangan ngomong aneh-aneh di kampus!""Kalo di kamar boleh berarti?" Vino mencekal pergelangan tangan Bita yang hendak melayangkan p
"Kamu jangan aneh-aneh ya, Vin." Bita menatapnya sangsi, memahami ke mana arah pembicaraan ini akan berujung."Apa? Gue cuma menawarkan bantuan?""Aku kenal kamu dan aku tahu kamu sedang merencanakan sesuatu. Dan sesuatu itu udah pasti bukan hal yang baik."Vino memasang raut tertohok. "Gue sejelek itu di mata lo, Ta? Sampai lo nggak percaya gue?"Bita mendesah. "Kalo gitu buat apa kamu menawarkan bantuan ke Fero?""Lo belum tau kalo Fero menganggap gue sama dia setara dalam hubungan persahabatan dengan lo?" tanya Fero. Mata Bita menyipit saat memandangi Fero dan Vino secara bergantian. "Emang kalian pernah ngobrol berdua?"Sesaat Vino terdiam sebelum menyuara santai. "Pernah. Ya ... cuma ngobrol-ngobrol biasa. Saling sapa selayaknya temen? Ya kan Fer?"Tidak langsung menjawab, Fero beradu pandang dengan Vino cukup lama kemudian menganggukkan kepalanya.Bita belum mau melunturkan sorot mata curiganya.
"Akh!" Bita memekik saat Vino langsung menarik tangannya begitu ia mendekat hingga membuatnya terjatuh dipangkuannya. "Permen lo udah habis?" Masih mentralkan degup jantung, Vino melemparkan pertanyaan yang hanya di jawab anggukan oleh Bita. "Coba liat." Dalam posisi duduk menyamping, V
"Satu shot lagi untuk Vino yang lagi suntuk kayak dikejar debt collector."Martin mengisi lagi gelas sloki Vino. Lantas tergelak begitu Vino langsung menandaskannya."Kenapa sih dia? " tanya Galang menunjuk Vino yang langsung terkapar di sandaran sofa bar. "Lagi patah hati? Nggak mungkin masalah ce
"Berarti lo mau lanjut, kan?"Bita memberikan anggukan.Vino mengerling jahil. "Ternyata lo masih mau memperjuangkan Mas Aksa."Satu pukulan mendarat di dada Vino. "Jangan kenceng-kenceng. Nanti mas Aksa tau!" peringat Bita.Meski dua hari ini Bita tidak melihat Aksa di rumah dan mobilnya juga tida
Vino mengendarai motornya dengan kecepataan rendah. Terendah sepanjang sejarah berboncengan dengan Bita. Bita sampai mengantuk terbuai semilir angin. Ditambah tidak adanya obrolan sepanjang perjalanan membuat Bita makin ditarik ke dalam alam mimpi. Beberapa kali Bita terantuk helm Vino saking ti







