"Jadi, ini calon suami Clarissa?" ucap Arthur, kali ini dengan Bahasa Indonesia yang cukup fasih, meski masih menyisakan aksen asing yang kental.Lexi yang berdiri di tengah ruangan hanya bisa memutar bola matanya di balik masker hitam. Rasa jengkel di dadanya semakin memuncak.'Hebat banget Aki-aki ini, rencananya perjodohannya sudah matang sampai bapaknya fasih bahasa sini,' umpat Lexi dalam hati.Abraham Permana tertawa puas, menepuk pundak Arthur Kensington dengan akrab. "Benar, Arthur. Ini dia Alexis, bocah bebal yang Bapak ceritakan semalam. Alexis, cepat lepas maskermu! Jangan memalukan Bapak di depan Om Arthur!"Mendengar perintah dari bapaknya, Lexi mengembuskan napas pendek, dirinya sendiri tampak sudah sangat pasrah, karena saat ini sudah tidak bisa melarikan diri. Bisa-bisa Lexi dicap tidak sopan dan tentu dampaknya akan kekeluarganya juga.Dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat acuh, tangan kanannya yang kekar terangkat menarik tali masker kain hitam, lalu menurunkanny
Read more