"Arga, ayo cepat, kepalaku benar-benar serasa mau pecah," rengek Naura sambil menarik-narik lengan kemeja Putra dengan tidak sabar saat mereka melangkah menyusuri lorong rumah sakit. "Bersabarlah, mobilnya ada di lobi depan. Kamu bisa berjalan sendiri," jawab Putra dengan nada datar yang terkesan sangat dingin. Di dalam hatinya, ia sangat keberatan mengikuti kemauan wanita ini yang terlalu dibuat-buat. "Tapi aku sudah tidak kuat jalan, Arga. Kepalaku berdenyut hebat. Kita ke kostanku saja, ya? Jaraknya lebih dekat dari sini daripada harus pulang ke rumah keluargaku di pinggir kota," pinta Naura, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar sangat manja dan memelas. Putra menoleh sekilas dengan tatapan menyelidik. "Kostan?" "Iya, kostan aku, tidak jauh kok, dari sini. Aku butuh istirahat secepatnya, dan di sana lebih tempatnya lebih tenang. Antarkan aku ke sana, ya?" desaknya lagi, jemarinya semakin erat mencengkeram lengan Putra. "Baiklah. Kita ke sana," jawab Putra singka
Read more