"Kakek, Paman Haris, Rudi ... saya mohon pamit sebentar, ada panggilan darurat dari ruang rawat pasien lain yang harus segera saya tangani," ucap Alya dengan napas memburu, berusaha menyembunyikan getar suaranya agar tidak memancing kecurigaan. "Panggilan darurat? Kalau begitu jangan ditunda, Alya. Pergilah cepat," sahut Kakek Kusuma tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun. "Biarkan Haris dan Rudi yang menemani Kakek mengobrol di sini. Kamu jalankan saja tugasmu dengan baik, Nak." "Terima kasih banyak, Kek. Paman, Rudi, tolong jaga Kakek sebentar, ya. Nanti saya kembali lagi," pamit Alya. "Tenang saja, Kak. Urusan Kakek Kusuma biar aku dan Paman yang urus. Kakak fokus saja pada pasien Kakak," jawab Rudi seraya tersenyum meyakinkan. Begitu pintu kamar Kakek Kusuma tertutup rapat di belakangnya, Alya tidak lagi menahan langkahnya. Ia berlari kencang menyusuri lorong rumah sakit, mengabaikan tatapan heran dari beberapa staf medis yang berpapasan dengannya. Jantungnya berdetak liar.
Read more