Dengan wajah yang masih memerah seperti kepiting rebus, Alya akhirnya memberanikan diri menatap Kakek Kusuma. Ia mengangguk pelan, sangat pelan, namun penuh dengan kepastian. "S-saya ... saya sangat mencintai Komandan Arga, Kek," cicit Alya dengan suara malu-malu, nyaris seperti bisikan. "Meski awalnya kami menikah karena terpaksa, tapi kemuliaan hatinya, perlindungannya, dan semua pengorbanannya ... membuat saya jatuh cinta padanya. Saya tidak bisa membayangkan hidup saya tanpanya lagi, Kek."Mendengar pengakuan tulus yang keluar langsung dari bibir istrinya di hadapan sang kakek, dada Arga seketika membusung bangga. Euforia kebahagiaan meledak di dalam hatinya, menghapuskan seluruh rasa sakit akibat luka bedah di kepalanya. Ia menarik tubuh Alya, merangkul pinggang wanita itu dengan sangat posesif. "Kakek dengar sendiri, kan? Dia tergila-gila padaku," bisik Arga dengan sangat percaya diri. "Putra!" tegur Alya membelalakkan matanya, wajahnya semakin memerah malu. Kakek Kusum
Read more