"Kau sangat cantik," puji Putra, jari telunjuknya menelusuri garis rahang Alya, turun ke leher jenjangnya. "Sejak malam pertama aku melihatmu di klinik desa itu, aku sudah tahu bahwa kau adalah takdirku." "Kau hanya merayuku. Waktu itu kau sedang berlumuran darah dan setengah mati," Alya tersenyum malu, mengusap rahang tegas suaminya. "Justru di saat aku setengah mati itulah, kau datang sebagai malaikat penolongku," balas Putra, kembali mendaratkan kecupan-kecupan ringan di sepanjang leher Alya, membuat wanita itu memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya menahan desahan. Suasana di dalam kamar itu semakin memanas, Dipenuhi gelora cinta dari sepasang suami istri yang akhirnya menemukan kedamaian setelah sekian lama berjuang melewati badai. Setiap sentuhan Putra begitu penuh perhitungan dan kelembutan, memastikan Alya merasa aman, dicintai, dan dihormati. Tidak ada ketergesaan. Ia ingin malam ini menjadi kenangan terindah bagi Alya, sebuah malam penyatuan jiwa dan raga yang
Read more