"Turunkan senjatamu, Arga! Jangan bodoh!" teriak Panca sambil mencengkeram pisau yang semakin menekan leher Zaky. Arga Putra tidak bergeming. Tatapan mata elangnya tetap terpaku pada sosok Panca yang gemetar ketakutan di balik tubuh Zaky. Secara perlahan, di luar dugaan, Arga menurunkan senapan laras panjangnya. Ia membuka kancing tali rompi anti pelurunya, lalu melemparkan senjata canggih itu ke atas tanah basah. Panca membelalakkan matanya, terkejut sekaligus merasa di atas angin. "Kau ... kau benar-benar melempar senjatamu, Arga? Apa kau sudah gila?!" "Aku tidak ingin mengotorinya dengan darah kotor sepertimu, Panca," jawab Arga datar, suaranya mengandung beban amarah yang telah tertahan selama bertahun-tahun. Ia melangkah maju perlahan, merenggangkan otot-otot bahunya. "Kau ingin aku mati? Kau ingin menghancurkan keluargaku? Lepaskan Zaky, dan hadapi aku secara jantan sebagai seorang prajurit. Kita selesaikan ini dengan tangan kosong." Panca menyeringai lebar, rasa taku
Baca selengkapnya