"Buka matamu, Sayang ... kumohon, jangan menghukumku seperti ini. Aku brengsek, aku bodoh! Pukul aku, maki aku, tapi tolong jangan diam berbaring seperti ini!" Suara parau yang bergetar itu adalah hal pertama yang menyusup ke dalam kesadaran Alya. Udara beraroma antiseptik yang khas langsung memenuhi indra penciumannya. Kelopak mata Alya terasa sangat berat, namun perlahan ia memaksanya terbuka, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu putih yang terang. Pemandangan pertama yang tertangkap oleh netranya bukanlah langit-langit ruang operasi, melainkan langit-langit mewah ruang perawatan VVIP. "Putra ...?" panggil Alya dengan suara yang sangat serak dan lemah. Mendengar suara lirih itu, pria besar yang sedari tadi menunduk di sisi ranjang langsung mendongak. Mata elang Arga Putra tampak memerah, raut kelelahan dan jejak air mata terlihat jelas di pipi sang komandan. "Alya! Ya Tuhan, akhirnya kau sadar!" seru Arga dengan napas tersengal. Ia langsung menggenggam erat tangan Alya, m
Read more