"Sayang, tidurlah. Kau tampak kelelahan, harus banyak istirahat," bisik Arga lembut sambil merapikan selimut tebal yang menutupi tubuh istrinya. Malam itu, di kamar utama kediaman Wardana, Alya berbaring di atas ranjang dengan perutnya yang kini semakin besar. Dengan usia kandungan memasuki delapan bulan, membuat setiap gerakannya terasa berat. Di sisinya, Arga setia menemani, memijat pelan kakinya yang mulai bengkak akibat kelelahan. Alya mendengus pelan, menatap suaminya dengan tatapan sendu. "Aku tidak bisa tidur, Putra. Pikiranku masih melayang ke Kakek, rasanya rumah ini begitu sepi tanpa beliau." Arga menghentikan pijatannya, lalu naik ke atas ranjang dan merengkuh tubuh istrinya ke dalam dekapannya yang hangat. "Aku mengerti, Alya. Kehilangan Kakek adalah luka yang berat untuk kita semua. Tapi kita harus kuat, demi bayi yang ada di dalam rahimmu." Alya menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, mendengarkan detak jantung Arga yang menenangkan. Sejenak, ia terdi
Read more