"Jangan pernah bicara seperti itu lagi, Dina!" potong Fatan tegas. Kali ini sorot matanya menajam penuh keyakinan. "Dengarkan aku! Aku tidak peduli dengan status sosial, harta, atau marga keluarga Hendarman. Yang kucintai adalah kamu, hatimu, ketulusanmu! Bukan latar belakang keluargamu. Aku sudah memilihmu, dan aku akan bertanggung jawab penuh atas pilihan itu." "Tapi ... ayahmu bilang kamu bukan lagi anak mereka ..." cicit Dina semakin terisak, merasa dirinya telah merusak masa depan Fatan. "Biarlah waktu yang membuktikan, Dina. Aku rela kehilangan segalanya asal aku tidak kehilanganmu," ucap Fatan penuh kesungguhan. Tak berapa lama kemudian, mobil SUV mewah Fatan memasuki halaman kediaman utama keluarga Wardana. Begitu kendaraan berhenti, Dina langsung membuka pintu mobil. Tanpa menunggu Fatan membukakan pintu, gadis itu berlari kecil masuk ke dalam rumah dengan wajah sembab dan isak tangis yang berusaha ditahannya. Ia langsung menerobos masuk menuju kamar tidurnya, mengunci
Read more