“Sayang, minum obat dulu, ya?” Seketika Ayya merengut dan menggeleng. “Aku kan udah sembuh, mah,” jawabnya menolak mentah-mentah.“Iya, Ayya udah sembuh. Tapi harus tetep diminum obatnya biar sembuh terus. Ayya gak mau sakit lagi, kan?” sabar Inggit mengelus puncak kepala anaknya.Posisinya sekarang ini Inggit berada di atas ranjang Ayya memangku tubuh anaknya. Sedari tadi Ayya tidak mau melepaskan pelukannya dari Inggit dan menggenggam erat tubuh ibunya. Bahkan Zio saja tak Ayya hiraukan kehadirannya.Ayya menggeleng. “Gak mau, mah. Pahit,” gerutu Ayya.“Enggak, kok. Gak pahit” sangkal Inggit meskipun sebenarnya ia juga tidak tega melihat Ayya harus merasa kepahitan memakan obat.“Kalo gak pahit, coba papazi cobain dulu!” “Hah?” “Kalau papa udah cobain, Ayya mau minum obatnya?” tanya Inggit setelah menoleh sekilas kepada Zio yang memasang wajah kaget.Ayya mengangguk mengiyakan. Sontak Inggit menoleh kepada Zio yang menggelengkan kepalanya. Inggit menghela napas panjang, ternyata
Read more