Suara dering telepon menghentikan tangan Inggit yang sedang asik memainkan laptop di pangkuannya. Sudah mulai promosi filmnya, Inggit ikut sibuk juga mengatur strategi marketing bahkan sudah beberapa hari ia menekuni kegiatannya ini.Inggit meraih ponselnya kemudian menjawab panggilan telepon tersebut.“Kenapa, pak?”“Git, kami di rumah? Bisa tolongin saya, gak?” Zio berucap terdengar panik.“Ada apa?”“Laptop saya ketinggalan di kamar”Inggit menghela napas panjang. Bisa-bisanya barang sepenting itu Zio tidak ingat untuk membawanya.“Iya, nanti aku ke kantormu”“Kamu gak kerepotan, kan? Saya sedang tak bisa meninggalkan kantor”“Iya aku kesana sekarang” Inggit beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar untuk mengambil laptop tersebut.“Baiklah, hati-hati sayang”Setelah ucapan terakhir dari Zio, Inggit segera menutup ponselnya. Entah mengapa ucapan sayang dari Zio selalu saja membuatnya gugup. Hatinya terlalu murahan, bahkan pernah disakiti sehebat apapun, dia masih saja tak b
Read more