Seakan sebuah mimpi buruk yang kembali terulang, Inggit mengepalkan tangannya dengan mata berkaca-kaca. Ia terduduk seraya menekuk lututnya masih dengan keadaan dibalut selimut tanpa sehelai kain di dalamnya.Tangannya meremas pelan ujung selimut dan kembali menoleh ke samping, tidak ada Zio di sana. Memang benar, sekalinya brengsek, tetaplah brengsek. Pria itu lagi-lagi meninggalkannya setelah semalam berlalu.Satu air mata bergulir di pipi Inggit, ia terisak pelan kemudian langsung meraung keras. Hatinya sakit, hatinya kecewa. Kenapa ia mau mengasihani laki-laki itu jika akibatnya tetaplah ia yang disakiti. Inggit berjanji, setelah ini ia akan meningalkan jauh Zio dan rumah ini.Raungannya yang sangat keras, berhasil memanggil bi Inem datang menghampiri kamarnya. Bi Inem mengetuk-ngetuk pintu mencoba memastikan majikannya itu baik-baik saja di dalam kamar. Namun sesegera mungkin, Inggit mengusir bi Inem hingga membuat bi Inem khawatir.Bi Inem menyambar ponselnya kemudian mencoba me
Read more