LOGIN"Ayo, A'im. Tiup lilinnya bersama Mas Ziyan dan Mbak Fitri," seru Radit menyemangati keponakan kecilnya.Ibrahim yang mengenakan kemeja flanel kembar dengan papanya tampak sangat ceria. Didampingi dua sepupunya, bocah yang genap berumur tiga tahun itu menghirup napas dalam-dalam lalu meniup lilin angka tiga di atas kue tart besar miliknya. "Horeee!" pekiknya riang setelah lilin mati.Maria menyaksikan pemandangan itu dengan mata yang berkaca-kaca di balik cadarnya. Ia terharu. Ini ulang tahun Ibrahim yang paling meriah. Dua kali ulang tahun sebelumnya, Maria hanya bisa mencium, memeluk erat anaknya sambil mengucapkan selamat ulang tahun sambil memberinya sepasang baju baru. Itu dilakukan saat Ibrahim bangun tidur. Namun kini, ada papanya yang memberi Ibrahim momen yang indah. Kehangatan malam itu terus mengalir seiring hidangan makanan yang disajikan. Obrolan santai, gurauan Pak Ali, serta tawa riang anak-anak menjadi melodi terindah bagi malam kebersamaan itu. Siti juga merasakan ke
Rangga merapat. Berbaring miring, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil menatap istrinya. Ia mengusap lembut jemari Maria. Lantas menatap manik mata istrinya dalam-dalam. "Maria, bagaimana kalau kita merencanakan punya anak lagi? Sekarang Mas sudah kembali dari Jepang. Pelan-pelan sambil kita cari rumah, sekalian program adiknya A'im."Maria sempat tertegun, seulas senyum tipis terbit di bibirnya. "Kenapa mendadak membahas ini, Mas? A'im saja baru berumur tiga tahun. Dan pernikahan kita baru dua bulan."Senyum terbit di bibir Rangga. Namun ia tidak menjawab perkataan istrinya. Bahwa sebenarnya dia gelisah. Semenjak kehilangan Maria dulu, Rangga masih khawatir kalau Maria bisa terlepas lagi. Ia takut kehilangan untuk kedua kalinya. Rangga berpikir kalau punya anak lagi, ikatan yang baru tersambung lagi bakalan semakin kuat. Mungkin Maria akan resign dan fokus mengurus anak-anak saja.Dulu ia tidak menuntut adanya anak, bukan karena tidak ingin. Sebab tidak mau membebani Maria ya
MARIA- 54 Surprise Dari balik kemudi mobil yang terparkir agak jauh di seberang jalan, tampak ada seorang wanita yang berhijab rapi dengan busana kantornya. Mata Tamara memperhatikan wanita bercadar yang tengah melangkah anggun ke arah gedung kantor hukum Pradipta & Co. Advisory. Senyum tipis terukir di bibirnya. Setelah didera rasa penasaran, hari ini akhirnya tahu di mana tempat tinggal wanita yang dikenalnya dengan nama Aisyah itu."Ternyata di sini rumahnya," gumam Tamara pada diri sendiri sambil memandang rumah minimalis modern dengan pagar tinggi di seberang jalan. Sejak obrolan singkat mereka beberapa waktu lalu, Tamara memang merasa sangat cocok dengan kepribadian Aisyah yang tenang dan mau mendengarkan. Di tengah kehidupannya yang kian sepi, di mana teman-temannya sudah sibuk dengan urusan mereka masing-masing, Tamara merasa butuh sosok teman sejati seperti Aisyah. Ia benar-benar ingin menjalin pertemanan dekat dengannya. Wanita itu cerdas dan berpengetahuan luas."Apakah
Di koper itu ada buah stroberi berukuran lebih kecil dari yang dimakan Ibrahim waktu itu, buah aprikot, peach, ceri hitam, blueberry, hingga plum ungu yang menggugah selera. Semua jenis buah yang tergolong langka atau berharga mahal jika dicari di Indonesia, sengaja diborong oleh Rangga dari supermarket Nagoya."Stlobeli!" pekik Ibrahim girang.Rangga tersenyum puas melihat binar bahagia anak dan istrinya. Mereka akhirnya menikmati buah-buahan segar itu bersama-sama di ruang tengah setelah Siti mencuci bersih sebagian buah. Tentu saja mereka tidak menghabiskannya sendiri. Maria membagi buah-buahan itu ke dalam beberapa wadah terpisah. Untuk pengurus panti, sebagian lagi disisihkan untuk dibawa saat mudik ke Kediri minggu depan.Untuk bos dan rekan kerja di kantor, Rangga membeli beberapa cindera mata khas Jepang, kipas lipat sutra, dan pajangan dinding tradisional.Sejak kedatangannya di bandara pagi tadi, Rangga sebenarnya memendam rasa gemas yang luar biasa. Ia belum bisa 'menyenggo
"Eh, A'im, sebentar, Sayang. Jangan ke sana dulu," potong Maria dengan sigap menahan pinggang putranya. "Papa masih di dalam, A'im nggak boleh masuk ke sana. Tunggu di sini ya, sebentar lagi Papa keluar."Ibrahim melonjak-lonjak tidak sabar, tatapan matanya terus mengikuti pergerakan Rangga yang kini sedang mengantre di pintu sensor terakhir. Begitu Rangga melangkah melewati pintu kaca otomatis dan resmi menginjakkan kaki di area penjemputan, Maria langsung melepaskan dekapannya.Bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya, Ibrahim langsung melesat berlari kencang membelah kerumunan orang, mengabaikan Siti yang sempat memekik saat mengikuti Ibrahim dari belakang. "Papaaa!"Melihat anak yang amat dirindukannya, Rangga spontan melepaskan pegangan kopernya. Ia langsung berjongkok, membuka lebar kedua lengannya untuk menyambut tubuh Ibrahim yang langsung menubruk dada bidangnya. Rangga mengangkat tubuh putranya, memeluknya teramat erat seolah ingin menumpahkan seluruh rindu yang menyiksa
MARIA - 53 KangenJarum jam baru menunjukkan pukul empat pagi dan azan Subuh belum berkumandang. Suasana di Malang masih diselimuti kabut yang dingin, membawa hawa sejuk khas pegunungan yang menusuk tulang. Di dalam kamar yang hening, Maria bergerak pelan-pelan mengganti popok Ibrahim yang sudah penuh, lalu memakaikan celana panjang yang hangat untuk perjalanan jauh.Siti juga sudah terbangun. Ia dengan sigap menyiapkan sebotol susu hangat, dan beberapa perlengkapan untuk dibawa ke Surabaya.Namun gerakan Maria rupanya mengusik kenyamanan tidur Ibrahim. Merasa tidurnya terganggu, bocah itu mulai merengek. Maria segera merengkuh tubuh anaknya, menepuk-nepuk punggungnya lembut untuk menenangkan. "Anak pintar jangan menangis. Pagi ini kita mau pergi naik mobil, lho. A'im, ikut nggak?""Naik mobil?" Ibrahim tertarik lalu memandang bundanya. "Iya.""Mau jalan-jalan?" tanyanya antusias dan tangan kecilnya mengucek mata."Iya.""Ke mana, Bunda?" "Kita mau menjemput Papa di bandara. Hari
"Mbak Aisyah, Pak Rudi mungkin bisa meyakinkan keluarganya," hibur Bu Halimah.Aisyah yang saat itu tak bercadar, tersenyum samar. Sejenak ruangan itu mendadak hening. Bu Halimah memang mengenal Rudi sudah lama. Sebagai donatur yang dermawan dan pria yang baik, tapi ia memang tidak tahu bagaimana d
Aisyah melangkah pelan, berdiri di samping Bu Halimah dengan sikap yang sangat tenang dan profesional. Meski di dalam dada bergemuruh hebat."Mbak Aisyah, kenalan sebentar. Beliau ini Pak Rangga, salah satu donatur dari grupnya Pak Ahmad. Bulan kemarin beliau sudah ke mari, tapi Mbak Aisyah lagi di
MARIA- 7 Di Persimpangan "Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal. Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan
MARIA- 6 Ingin Berpisah "Kenapa kau tutupi kelakuan gila suamimu, Maria?" tanya Radit dengan suara penuh getar emosi pada Maria yang membantu Rangga bangkit dan duduk di kursi."Jangan pernah diam kalau itu menyakitimu. Diammu itu bukan kesabaran. Itu adalah cara kau membiarkan dirimu hancur send







