共有

MJM 133

last update 公開日: 2026-07-11 14:06:24

Ia meraih ponsel lalu mencari nama Susi di daftar kontak.

"Halo."

"Kamu lagi sibuk, Sus?"

"Nggak, Tam. Ada apa?"

"Sus, kamu tahu nggak nomer teleponnya Mbak Aisyah yang kerja di kantor hukum Pak Pradipta itu?" tanya Tamara.

"Nggak tahu aku, Tam. Memangnya ada apa?"

"Minggu depan jadwal sidangmu lagi, kan? Kalau bertemu Pak Pradipta, tolong mintakan nomer ponsel Mbak Aisyah, Sus," pinta Tamara. "Kemarin aku sempat datang ke kantornya, tapi nggak ketemu. Kata Pak Pradipta, Mbak Aisyah lagi sibuk
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (30)
goodnovel comment avatar
Ria Nur
eehh,,,ada apa k Othor kok mas Zein bilang begitu? jangan lah cerita nya begitu,,, berikan jodoh nya mas Zein dan bertemu dengan Rangga,,, mereka bisa bersilaturahmi dan berteman,,, gimana sepuluh g k Othor 🫣🫣🫣🫰🫰🫰
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
duh mas Zein...moga cepetan cari jodoh
goodnovel comment avatar
Mira Lusia
jadi sedih kan mas zenn
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Mencari Jejak Maria   MJM 139

    Di koper itu ada buah stroberi berukuran lebih kecil dari yang dimakan Ibrahim waktu itu, buah aprikot, peach, ceri hitam, blueberry, hingga plum ungu yang menggugah selera. Semua jenis buah yang tergolong langka atau berharga mahal jika dicari di Indonesia, sengaja diborong oleh Rangga dari supermarket Nagoya."Stlobeli!" pekik Ibrahim girang.Rangga tersenyum puas melihat binar bahagia anak dan istrinya. Mereka akhirnya menikmati buah-buahan segar itu bersama-sama di ruang tengah setelah Siti mencuci bersih sebagian buah. Tentu saja mereka tidak menghabiskannya sendiri. Maria membagi buah-buahan itu ke dalam beberapa wadah terpisah. Untuk pengurus panti, sebagian lagi disisihkan untuk dibawa saat mudik ke Kediri minggu depan.Untuk bos dan rekan kerja di kantor, Rangga membeli beberapa cindera mata khas Jepang, kipas lipat sutra, dan pajangan dinding tradisional.Sejak kedatangannya di bandara pagi tadi, Rangga sebenarnya memendam rasa gemas yang luar biasa. Ia belum bisa 'menyenggo

  • Mencari Jejak Maria   MJM 138

    "Eh, A'im, sebentar, Sayang. Jangan ke sana dulu," potong Maria dengan sigap menahan pinggang putranya. "Papa masih di dalam, A'im nggak boleh masuk ke sana. Tunggu di sini ya, sebentar lagi Papa keluar."Ibrahim melonjak-lonjak tidak sabar, tatapan matanya terus mengikuti pergerakan Rangga yang kini sedang mengantre di pintu sensor terakhir. Begitu Rangga melangkah melewati pintu kaca otomatis dan resmi menginjakkan kaki di area penjemputan, Maria langsung melepaskan dekapannya.Bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya, Ibrahim langsung melesat berlari kencang membelah kerumunan orang, mengabaikan Siti yang sempat memekik saat mengikuti Ibrahim dari belakang. "Papaaa!"Melihat anak yang amat dirindukannya, Rangga spontan melepaskan pegangan kopernya. Ia langsung berjongkok, membuka lebar kedua lengannya untuk menyambut tubuh Ibrahim yang langsung menubruk dada bidangnya. Rangga mengangkat tubuh putranya, memeluknya teramat erat seolah ingin menumpahkan seluruh rindu yang menyiksa

  • Mencari Jejak Maria   MJM 137

    MARIA - 53 KangenJarum jam baru menunjukkan pukul empat pagi dan azan Subuh belum berkumandang. Suasana di Malang masih diselimuti kabut yang dingin, membawa hawa sejuk khas pegunungan yang menusuk tulang. Di dalam kamar yang hening, Maria bergerak pelan-pelan mengganti popok Ibrahim yang sudah penuh, lalu memakaikan celana panjang yang hangat untuk perjalanan jauh.Siti juga sudah terbangun. Ia dengan sigap menyiapkan sebotol susu hangat, dan beberapa perlengkapan untuk dibawa ke Surabaya.Namun gerakan Maria rupanya mengusik kenyamanan tidur Ibrahim. Merasa tidurnya terganggu, bocah itu mulai merengek. Maria segera merengkuh tubuh anaknya, menepuk-nepuk punggungnya lembut untuk menenangkan. "Anak pintar jangan menangis. Pagi ini kita mau pergi naik mobil, lho. A'im, ikut nggak?""Naik mobil?" Ibrahim tertarik lalu memandang bundanya. "Iya.""Mau jalan-jalan?" tanyanya antusias dan tangan kecilnya mengucek mata."Iya.""Ke mana, Bunda?" "Kita mau menjemput Papa di bandara. Hari

  • Mencari Jejak Maria   MJM 136

    "Mas, hati-hati," pesan Maria dengan mata yang mulai berembun. Dia begitu sedih setelah tahu siapa Zein. Pria itu mengangguk, lalu melaju dengan motornya meninggalkan panti.🖤LS🖤"Pak Pradipta nggak bisa ngasih nomernya Aisyah, Tam. Aku dah nyoba minta kemarin." Susi memberitahu Aisyah saat mereka ketemuan sepulang kerja. Janjian di kafe seperti biasanya. "Alasannya apa nggak mau ngasih?" tanya Tamara terlihat sangat kecewa."Aku nggak tahu. Pak Pradipta cuman bilang nggak bisa ngasih nomer orang sembarangan. Ya, mungkin saja Aisyah ini orangnya tertutup. Lihat saja cara berpakaiannya. Dia pakai cadar juga. Mungkin membatasi pergaulan.""Masa sih?" Tamara tidak percaya. "Padahal Aisyah ramah banget.""Kalau untuk urusan pekerjaan pasti ramah. Sebab dia dituntut profesional. Aisyah ini dah nikah belum, sih?" tanya Susi sambil mengaduk jusnya.Tamara mengedikkan bahunya. "Aku juga belum tahu. Makanya aku pengen temenan sama dia.""Kamu samperin aja ke kantornya pas pulang kerja. Mun

  • Mencari Jejak Maria   MJM 135

    Zein menoleh menatap Maria dengan senyum di bibirnya. "Aku tahu hukumannya, Aisyah. Bisa dipecat atau bahkan dianggap berkhianat. Tapi aku menceritakan ini semua murni karena aku teramat mempercayaimu. Aku tahu rahasia ini aman bersamamu, dan tidak akan pernah sampai ke telinga siapapun. Cukup di kamu saja.""Terima kasih sudah mempercayai saya, Mas. Percayalah, akan saya jaga rahasia ini. Bahkan dari Mas Rangga. Cukup saya saja yang tahu." Ini sebuah janji Maria. Ia akan menjaga rahasia Zein dari siapapun.Padahal seorang intelegen pun, tidak boleh membuka identitas aslinya di hadapan kekasih, atau calon istrinya. Itu sudah sumpah. Kecuali kalau mereka sudah menikah nanti. Tapi Zein begitu percaya padanya yang notabene tidak ada hubungan spesial dengan pria itu. Tanpa sadar, sebenarnya mereka begitu dekat."Pokoknya di mana pun Mas Zein berada, sesekali kirim kabar ke saya. Nggak apa-apa, Mas Rangga paham kalau Mas Zein sangat berjasa dalam hidup saya dan A'im. Toh kita hanya bertany

  • Mencari Jejak Maria   MJM 134

    MARIA - 52 Nama Samaran Maria kaget dengan ucapan Zein yang lempeng dan santai. Hatinya terasa tercubit hebat. Rasa sedih yang mendalam mendadak menyergap, mengabaikan jarak sopan yang biasa ia jaga. Detik itu juga sepasang netra Maria mulai berkaca-kaca, digenangi air mata yang tertahan di sudut pelupuk."Kenapa Mas Zein ngomong seperti itu? Jangan bercanda dengan hal-hal yang menyangkut nyawa, Mas," kata Maria dengan suara bergetar dan ada nada cemas.Zein mengalihkan pandangannya sejenak pada Ibrahim dan beberapa anak yang kembali ke aula untuk bermain di sana, lalu kembali menatap Maria. "Aku tidak sedang menakut-nakutimu, Aisyah. Memang begitu risiko mutlak dari pekerjaan yang kupilih. Sejak awal, kontrak mati itu sudah dijelaskan dengan sangat gamblang ketika aku memutuskan masuk di badan intelijen khusus bagian kriminal. Musuh yang kami hadapi bukan pencuri jemuran atau ayam, melainkan sindikat internasional yang berbahaya, jaringan pengedar narkoba, dan para mafia yang tidak

  • Mencari Jejak Maria   MJM 69

    "Sebelum ke sini, A'im sudah pernah diajak pergi ke mana?" tanya Rangga menoleh pada Maria."Belum," jawab Maria singkat.Ini kali pertama dalam hidup Ibrahim, bocah itu menginjakkan kaki di sebuah tempat wisata megah seperti ini. Selama ini, Maria hanya mengajaknya berjalan-jalan di taman kota yan

  • Mencari Jejak Maria   MJM 65

    MARIA- 29 Jalan-jalan "Ulfa, panggilin Mbak Aisyah dan A'im, ya. Bilang kalau Pak Rangga datang." Bu Halimah menyuruh seorang anak kelas lima SD untuk memanggil Aisyah, setelah wanita itu mempersilakan Rangga masuk ke ruang tamu panti."Ya, Bu," jawab Ulfa terus berlari ke arah belakang."Mas Ran

  • Mencari Jejak Maria   MJM 58

    Rangga menggedong Ibrahim masuk ke dalam rumah. Mereka duduk ngobrol di ruang tengah. Namun tak lama kemudian, Pak Ali pamit masuk kamar karena sudah mengantuk. Bu Hasna masih menemani mereka. Namun wanita itu ke kamar mandi sejenak."Maria, berapa nomer rekeningmu. Aku akan mengirim uang bulanan u

  • Mencari Jejak Maria   MJM 42

    Keputusan baru saja diketuk oleh hakim di ruang sidang. Sidang kedua berjalan jauh lebih lancar dari yang dibayangkan. Tanpa perdebatan panjang, tanpa drama tuntutan harta yang berarti. Sebab Rangga tak mengambil bagiannya. Biar saja. Yang penting sidang lancar dan cepat selesai.Palu hakim telah m

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status