MasukMaria diam sejenak lalu melanjutkan kata-katanya. "Menurutku kamu sedang sakit dan perlu berobat ke psikiater. Buruan sebelum terlanjur gila."Tawa Tamara di seberang sana mendadak terhenti, digantikan dengkus tidak suka. "Kamu nggak usah sok menasihatiku. Lihat bagaimana dia akan kembali meninggalkanmu. Bilang saja kamu kepanasan melihat seberapa mesranya Mas Rangga padaku.""Sama sekali tidak," potong Maria cepat dan tenang. "Nggak ada gunanya kamu memanas-manasiku dengan hal usang begitu. Perlu kamu tahu, hubunganku dengan Mas Rangga jauh lebih romantis, sehat, dan indah sekarang ini. Aku nggak perlu menceritakan kepadamu bagaimana mesranya hubungan kami setiap hari, hingga sekarang aku sedang mengandung anak kami yang nomer dua."Termasuk bagaimana kami menikmati indahnya musim semi di Jepang waktu itu. Mas Rangga membawaku dan A'im berbulan madu ke sana. Menebus semua waktu yang dulu sempat hilang. Aku nggak perlu pamer atau mengirimkan bukti foto atau videonya kepadamu karena ma
"Mas sudah merencanakan perceraian sebelum bertemu denganmu," bantah Rangga. Maria terus meluapkan segala kekesalan, rasa lelah, dan rasa tidak amannya malam itu. Sementara Rangga hanya bisa diam membisu, mendengarkan dengan sabar setiap kata amarah yang keluar dari bibir sang istri. Pria itu menahan diri untuk tidak memotong atau mendebat. Percuma, Maria hanya ingin didengar, bukan didebat.Rangga sekarang paham psikologi wanita, kalau mereka butuh mengomel untuk mengeluarkan seluruh racun di dalam hatinya hingga tuntas. Terlebih lagi ia sadar bahwa saat ini Maria sedang mengandung. Di mana gejolak hormon membuat mood-nya naik turun dengan drastis dan tidak menentu. Rangga tahu, sebagai konsekuensi masa lalunya ia harus siap jika sewaktu-waktu masalah ini kembali diungkit, lagi dan lagi sampai kapan pun.Seperti halnya Tamara dulu, tiap kali marah, akan mengungkit kebersamaan Rangga dan Maria.Setelah Maria mulai tenang, Rangga menarik napas panjang dan dalam. Ia merapatkan tubuhnya
MARIA - 62 Bukan Maria yang Dulu"Aku nggak ingin membahasnya, Mas. Aku tahu itu semua foto dan video lama," ucap Maria, suaranya tercekat di tenggorokan. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini mulai merebak, membuat sepasang matanya berkaca-kaca di bawah pendar lampu kamar. Ia tahu semua itu cerita lama. Tapi jujur, ada rasa sakit dan kecewa dalam dada. Padahal beberapa waktu ini suasana sudah anteng. Eh, tiba-tiba saja Tamara muncul lagi dan berusaha menyerang mentalnya."Aku hanya ingin diam sekarang ini. Aku butuh waktu untuk kembali berdamai dengan kenyataan, bahwa ketika aku memutuskan untuk menerima Mas kembali, maka hal-hal seperti inilah yang harus siap kujadikan konsekuensinya." Maria berusaha melepaskan cekalan kuat jemari Rangga di pergelangan tangannya. Di dalam hatinya yang paling dalam, sebuah pengakuan jujur menyeruak dengan begitu perih. Ternyata memang tidak pernah mudah untuk mencintai seorang Rangga. Sebab ada wanita lain yang masih ingin memilikinya.Ujian di
"Nggak ada, Pak. Hanya pengen tahu saja. Penasaran soalnya," jawab Maria lugas."Oke. Kalau begitu saya keluar dulu." Lelaki itu bangkit dari duduknya lantas melangkah ke arah pintu utama.Maria mengalihkan perhatian pada ponselnya yang berpendar. Ada panggilan masuk dari sang suami.🖤LS🖤Dua bulan kemudian ....Maria memperhatikan Ibrahim yang sedang asyik bermain kejar-kejaran dengan teman-temannya. Tawa renyah anak-anak itu memenuhi aula panti. Hari Sabtu Maria selalu datang ke panti. Sedangkan khusus hari ini Rangga harus masuk kantor. Ada hal urgent yang tidak bisa ditinggalkan.Bu Halimah mendekat lalu duduk di sampingnya. "Aisyah, apa Nak Zein nggak pernah mengirimkan pesan padamu?""Nggak pernah, Bu."Wanita berhijab lebar itu menghela napas pendek, gurat cemas tampak di wajah sepuhnya. "Sudah setengah tahun Nak Zein nggak pernah datang berkunjung ke panti. Kira-kira ada apa ya dengan Nak Zein?""Saya juga nggak tahu, Bu," jawab Maria lirih. Ia juga tidak berani mengirim pes
Semua orang tampak tidak menyangka. Daerah yang selama ini dikenal relatif tenang dan kondusif, ternyata menjadi sarang persembunyian mafia kelas kakap dengan jaringan yang begitu rapi."Benar-benar di luar dugaan, ya. Kita nggak pernah mengira ada sindikat sebesar itu di sini," ujar salah seorang staf administrasi yang di-iyakan oleh yang lain."Tahu nggak, kata sepupuku yang rumahnya dekat sana, malam kemarin terasa mencekam. Sebab beberapa kali terdengar tembakan karena mereka melawan.""Oh, ya?""Iya. Pokoknya orang-orang pada kaget malam itu."Percakapan terus bergulir di jam istirahat itu. Di kubikel kerjanya, Maria mendengarkan percakapan mereka dengan hati yang kian gelisah. Jemarinya yang memegang berkas kasus, terasa sedikit dingin. Fokusnya buyar. Pikiran Maria terus berputar-putar pada satu nama. Zein. Padahal akal sehatnya berulang kali mengingatkan bahwa belum tentu Zein terlibat dalam tugas berbahaya malam itu. Kota ini luas dan intel tidak hanya diisi oleh satu orang.
MARIA- 61 FotoMalam kian merayap sunyi. Setelah memastikan Maria dan Ibrahim tertidur lelap di kamar, Rangga menemani kedua orang tuanya yang duduk di ruang tengah sedang menonton televisi. Sisa ketegangan akibat insiden labrakan di parkiran mal tadi siang masih menyisakan hawa tidak enak di antara mereka."Ibu jadi khawatir sama Maria dan A'im, Ngga. Setelah melihat kelakuan ibunya Tamara tadi. Mereka ini orang-orang nggak waras. Ibu takut mereka nekat melakukan hal buruk untuk nyakitin Maria dan anakmu." Bu Hasna menatap Rangga dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan.Rangga mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan sang ibu. "Ibu tidak perlu khawatir berlebihan. Rangga jamin Maria dan A'im akan baik-baik saja.""Kamu harus segera cari rumah baru yang aman buat mereka. Pindah dari kontrakan ini secepatnya." Pak Ali ikut menimpali dengan suara beratnya. "Iya, betul itu, Ngga," sahut Bu Hasna cepat. Wanita sepuh itu menatap anaknya lebih lekat. "Tamara yang kelakuannya kaya
Rangga menggedong Ibrahim masuk ke dalam rumah. Mereka duduk ngobrol di ruang tengah. Namun tak lama kemudian, Pak Ali pamit masuk kamar karena sudah mengantuk. Bu Hasna masih menemani mereka. Namun wanita itu ke kamar mandi sejenak."Maria, berapa nomer rekeningmu. Aku akan mengirim uang bulanan u
Keputusan baru saja diketuk oleh hakim di ruang sidang. Sidang kedua berjalan jauh lebih lancar dari yang dibayangkan. Tanpa perdebatan panjang, tanpa drama tuntutan harta yang berarti. Sebab Rangga tak mengambil bagiannya. Biar saja. Yang penting sidang lancar dan cepat selesai.Palu hakim telah m
"Sebelum ke sini, A'im sudah pernah diajak pergi ke mana?" tanya Rangga menoleh pada Maria."Belum," jawab Maria singkat.Ini kali pertama dalam hidup Ibrahim, bocah itu menginjakkan kaki di sebuah tempat wisata megah seperti ini. Selama ini, Maria hanya mengajaknya berjalan-jalan di taman kota yan
MARIA- 29 Jalan-jalan "Ulfa, panggilin Mbak Aisyah dan A'im, ya. Bilang kalau Pak Rangga datang." Bu Halimah menyuruh seorang anak kelas lima SD untuk memanggil Aisyah, setelah wanita itu mempersilakan Rangga masuk ke ruang tamu panti."Ya, Bu," jawab Ulfa terus berlari ke arah belakang."Mas Ran







