Ica duduk kaku sambil mencengkeram tas selempangnya dengan erat. Dia takut bergerak. Mobil ini mobil mahal, takutnya kalau dia lasak, mobilnya nanti tergores dia mau ganti pakai apa? “Kami turun di terminal saja, Ka,” kata bulek yang diangguki oleh paklik. “Saya antar saja, mau kemana?” “Tidak usah. Sewanya pasti tambah mahal kalau antar kami dulu.”Ica hanya menoleh ke depan dan belakang mengikuti pembicaraan mereka, tanpa berani berkomentar.Dia akui kalau Saka suaminya, ini sebenarnya baik dan peduli pada orang sekitarnya terutama yang sedang mengalami kesulitan. Apa iya Ica harus masang muka melas dulu agar suaminya peka dengan suasana hatinya. Pria ini juga tak banyak bicara dan bijak, mungkin karena memang umurnya sudah tua kali ya, tapi itu juga yang membuat ica segan. Saka memang tak banyak bicara, tapi justru itu yang membuat Ica segan untuk berbuat semaunya. Tapi Ica sedikit tak habis pikir dengan mobil ini. Saka bukan sosok yang suka pamer, bahkan saat kemarin membel
Read more