“Kamu ingat nggak, Ka. Dulu kita sering ke kota saat bolos sekolah dan kita gantian nyetir motor.” “Iya,” jawab Saka singkat. “Warung yang dulu kita sering singgah masih ada nggak ya, Ka?” “Kamu kan sering lewat sana, masak tidak tahu.” Farah memang akhirnya menyetir mobil Ica, dengan Ica yang duduk di kursi belakang, sambil kakinya dia selonjorkan di atas pangkuan Saka. Ini Saka sendiri yang minta lho, Ica sudah berusaha menolak tapi suaminya itu ternyata keras kepala juga kalau sudah mau. Ica akhirnya menurut, tapi dia senang juga sih melihat reaksi Farah. Disuruh nyetiri, dipaksa melihat Saka yang begitu perhatian memijat pelan kaki Ica bahkan meniup lukanya tadi meski kaki Ica sudah tidak sakit lagi, tapi kapan lagi suaminya yang kayak kulkas berjalan ini bisa perhatian padanya. Kalau Farah marah lalu mengamuk, tentu Ica akan sangat senang, tapi wanita itu punya cara paling licik untuk melampiaskan rasa marahnya. Apalagi kalau membicarakan kenangan mereka berdua. Ica? Y
Read more